Kedua, 10 persen dialokasikan ke obligasi jangka pendek seperti Treasury Bills yang diterbitkan pemerintah.
Kombinasi itu bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan jangka panjang melalui pasar saham, sekaligus memberikan perlindungan lewat obligasi yang lebih stabil. Dengan begitu, investor bisa tetap likuid meski pasar sedang bergejolak.
Keunggulan strategi 90/10 tidak hanya pada potensi imbal hasil yang besar, tetapi juga pada pengendalian risiko.
Investor tidak perlu pusing memilih saham satu per satu dan cukup melakukan penyesuaian portofolio secara berkala.
Baca Juga: Warga Indonesia Diguncang Gempa Semalaman di 15 Wilayah, dari Sumatera hingga Papua
Manfaat lainnya adalah strategi ini bisa mengurangi stres bagi investor pemula.
Fluktuasi pasar sering membuat panik, tetapi dengan diversifikasi lewat indeks S&P 500 dan cadangan obligasi, portofolio tetap lebih terjaga.
Dengan pendekatan sederhana tersebut, Buffett menunjukkan cara berinvestasi yang sebenarnya tidak harus rumit, justru yang sederhana justru dinilai lebih efektif.***