REDAKSI88.com – Saat ini, semakin banyak anak muda Indonesia di era digital yang menjadikan hobi sebagai ladang cuan. Fenomena tersebut dikenal dengan istilah passion economy.
Sebuah tren global yang menunjukkan bagaimana minat dan kegemaran seseorang dapat diolah menjadi karya kreatif yang menarik perhatian publik.
Bagi sebagian orang, istilah passion economy mungkin masih terdengar asing. Namun, contoh konkretnya mudah dijumpai di sekitar kita, yakni kreator konten yang awalnya hanya membagikan kesukaan sederhana, kemudian berkembang menjadi sosok terkenal dengan pengikut jutaan.
Baca Juga: Program THT ASN di PT Taspen Berpotensi Terancam, Pemerintah Ingatkan Risiko Likuiditas
Salah satu contoh nyata adalah Nessie Judge, kreator konten yang dikenal lewat video bertema misteri di YouTube. Dengan gaya bercerita yang khas, Nessie mampu mengubah ketertarikannya pada sejarah dan kisah unik menjadi tontonan yang ditunggu-tunggu jutaan penonton.
Fenomena ini memperlihatkan cara kerja passion economy: sebuah hobi yang dijalani dengan konsisten tidak hanya dapat menjadi identitas seseorang, tetapi juga sumber penghasilan.
“Modal utama bukan uang, melainkan keberanian mengekspresikan diri dan membangun koneksi dengan audiens,” demikian pernyataan Mighty Networks yang dikutip pada Sabtu, 23 Agustus 2025.
Baca Juga: Mengupas Perbedaan Passion Economy vs Creator Economy, Hobi Bisa Jadi Sumber Cuan
Contoh lain bisa dilihat dari Windah Basudara, streamer gaming yang akrab dengan komunitas “bocil kematian”. Daya tarik Windah bukan semata pada keterampilan bermain gim, melainkan interaksi hangat dan humor khas yang membuat pengikutnya merasa dekat.
Ada pula Fadil Jaidi bersama ayahnya, Pak Muh, yang menghadirkan sisi berbeda dari passion economy. Konten keluarga yang mereka tampilkan secara spontan dan apa adanya justru membuat penonton merasa lebih terhubung dengan kehidupan mereka.
Lantas, bagaimana awal kemunculan tren ini?
Baca Juga: Langkah Awal Strategi Investasi Saham di 2025: Fokus pada Konsistensi, Bukan Besarnya Modal
Fenomena passion economy disebut berakar kuat pada Generasi Z, kelompok yang lahir dan tumbuh di tengah perkembangan teknologi serta media sosial. Tidak mengherankan bila banyak anak muda lebih memilih menyalurkan kreativitas melalui konten digital dibandingkan terikat pada pekerjaan kantoran.
Pandemi Covid-19 semakin mempercepat tren ini. Ketika banyak orang bekerja dari rumah, muncul kesadaran bahwa mencari nafkah tidak selalu harus dilakukan di kantor. Situasi tersebut mendorong munculnya cara kerja yang lebih fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan zaman.