7. Psychotic depression
Terakhir, ada psychotic depression, kondisi gangguan kesehatan mental yang muncul pada seseorang yang mengalami depresi parah, bersamaan dengan gejala psikotik misalnya delusi, halusinasi, dan masalah pola pikir.
Penyebab Depresi
Depresi adalah salah satu masalah kesehatan mental yang kompleks dan menyeluruh. Hingga kini, para ahli belum menemukan penyebab pastinya, namun mereka menduga bahwa kondisi ini dipicu oleh beragam faktor yang saling terkait.
Berikut ini adalah faktor-faktor utama yang diyakini turut berkontribusi dalam munculnya depresi:
1. Faktor Biologis
Individu yang mengalami depresi mungkin mengalami perubahan fisik pada otak. Depresi berhubungan erat dengan atrofi neuron di area otak kortikal dan limbik yang mengontrol emosi dan suasana hati. Meski begitu, tingkat perubahan otak yang dapat memicu depresi secara pasti masih menjadi teka-teki bagi para peneliti.
2. Ketidakseimbangan Kimiawi Otak
Neurotransmitter, zat kimia alami di otak, berperan besar dalam mempengaruhi suasana hati. Perubahan pada fungsi atau efek neurotransmitter ini dapat mengganggu stabilitas emosional seseorang, yang pada gilirannya mempengaruhi risiko terjadinya depresi.
3. Gangguan Hormon
Fluktuasi hormon yang tidak terkendali dapat menjadi pemicu depresi. Ini sering terjadi pada masa kehamilan, beberapa minggu atau bulan setelah persalinan (depresi postpartum), serta pada kondisi medis lain seperti masalah tiroid dan menopause, yang semuanya dapat meningkatkan risiko depresi.
4. Faktor Genetik
Depresi juga memiliki faktor genetik; risiko mengalaminya lebih tinggi pada seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan kondisi serupa. Para ahli menduga bahwa gen memainkan peran signifikan dalam menentukan risiko seseorang terkena depresi.
5. Pengalaman Hidup yang Menyakitkan
Peristiwa hidup yang penuh tekanan, seperti kehilangan orang tersayang, trauma, isolasi sosial, dan kurangnya dukungan emosional, dapat menjadi pemicu kuat depresi. Beban emosional dari pengalaman ini dapat membentuk kerentanan yang berujung pada gangguan mental ini.
6. Kondisi Medis Kronis
Rasa sakit berkepanjangan dan kondisi medis kronis seperti diabetes, kanker, dan penyakit Parkinson seringkali disertai dengan dampak psikologis yang berat. Individu dengan penyakit-penyakit ini lebih rentan mengalami depresi sebagai respons terhadap tekanan fisik dan emosional.
7. Efek Samping Obat-obatan
Beberapa jenis obat, terutama narkotika dan alkohol, dapat memicu atau memperburuk gejala depresi. Efek samping dari obat-obatan tertentu membuat pengguna lebih rentan terhadap perubahan suasana hati yang mengarah pada depresi.
8. Kepribadian dan Resiliensi Emosional
Individu yang cenderung merasa kewalahan atau memiliki kesulitan dalam menghadapi situasi sulit memiliki risiko lebih tinggi terkena depresi. Ketidakmampuan untuk mengelola stres atau kecemasan dapat menimbulkan dampak yang berkepanjangan pada kesehatan mental.
Faktor Risiko Depresi
Depresi dapat menyerang siapa saja, tetapi beberapa kelompok usia dan faktor tertentu meningkatkan kerentanannya. Remaja hingga usia 20-an dan 30-an adalah rentang usia yang paling sering terdampak, meskipun risiko ini sebenarnya mengintai di segala usia.
Kaum wanita, misalnya, memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami depresi dibandingkan pria, meskipun mereka cenderung lebih cepat mencari bantuan profesional.
Di sisi lain, pada usia paruh baya atau dewasa yang lebih tua, depresi sering kali muncul seiring dengan penyakit medis serius, seperti diabetes, kanker, penyakit jantung, atau penyakit Parkinson.
Kondisi medis ini seringkali diperparah oleh depresi, yang tidak hanya memengaruhi kualitas hidup, tetapi juga memperlambat proses penyembuhan.