REDAKSI88.com- Kalender Jawa, di tengah gemuruh zaman modern, sebuah warisan budaya yang sarat makna terus bertahan.
Meski sering dianggap kuno, kalender ini tetap menjadi panduan penting bagi masyarakat Jawa, khususnya dalam menentukan waktu pelaksanaan tradisi adat dan acara besar lainnya.
Kalender Jawa adalah hasil mahakarya Sultan Agung dari Kerajaan Mataram. Ia menciptakan kalender ini sebagai jembatan antara kalender Hijriah, yang berbasis pada tradisi Islam, dan kalender Saka, warisan dari budaya Hindu.
Saat itu, masyarakat Jawa menggunakan kedua kalender ini secara bersamaan, yang sering kali menyebabkan ketidaksinkronan dalam perayaan adat dan keagamaan.
Dengan memperkenalkan Kalender Jawa, Sultan Agung berhasil menciptakan harmoni di tengah perbedaan tersebut.
Di masa kejayaannya, Kalender Jawa digunakan secara luas oleh Kerajaan Mataram dan kerajaan-kerajaan pecahannya.
Namun, sistem penanggalan ganda tetap dipertahankan. Kalender Masehi digunakan untuk urusan administrasi kerajaan, sedangkan Kalender Jawa menjadi pedoman utama dalam ritual dan upacara adat.
Keistimewaan Kalender Jawa terletak pada siklus waktu yang unik dan mendalam.
Pancawara (Pasaran), Siklus lima hari dengan nama-nama khas yakni Kliwon (Kasih), Legi (Manis), Pahing (Jenar), Pon (Palguna), dan Wage (Cemengan).
Hari-hari ini, yang dikenal sebagai weton, memiliki makna spiritual dan astrologi yang dipercaya memengaruhi kehidupan seseorang.
Saptawara (Padinan), Siklus tujuh hari yang identik dengan Kalender Masehi, yaitu Senen (Senin), Selasa, Rebo (Rabu), Kemis (Kamis), Jemuwah (Jumat), Setu (Sabtu), dan Ngahad (Minggu).