Saat mereka berlabuh di Gunung Ararat atau bukit Judi, Nabi Nuh memerintahkan puasa sebagai ungkapan rasa syukur atas selamatnya mereka dari kehancuran.
Puasa di masa Nabi Nuh adalah bentuk pengakuan dan terima kasih kepada Allah atas pertolongan-Nya.
Nabi Daud dan Puasa Selang-Seling
Nabi Daud AS, memperkenalkan bentuk puasa yang unik, yakni puasa selang-seling. Dalam pola ini, ia berpuasa sehari dan tidak berpuasa sehari berikutnya.
Kebiasaan ini dikenal sebagai "puasa Daud", yang menegaskan bahwa puasa bisa memiliki berbagai bentuk sesuai dengan kondisi dan keimanan seseorang.
Nabi Musa, Puasa Asyura
Puasa selanjutnya dikenal melalui kisah Nabi Musa AS. Setelah Allah menurunkan mukjizat berupa jalan setapak melalui lautan untuk menyelamatkan Bani Israil dari kejaran Firaun dan tentaranya.
Nabi Musa memerintahkan umatnya untuk berpuasa sebagai bentuk ungkapan syukur atas pertolongan ilahi.
Puasa yang dilakukan untuk mengenang peristiwa penyelamatan ini kemudian dikenal dengan nama "puasa Asyura".
2. Transformasi Puasa di Era Rasulullah SAW
Peralihan dari Puasa Asyura ke Puasa Ramadan
Rasulullah SAW sendiri awalnya kerap menjalankan puasa tiga hari setiap bulannya. Ketika beliau hijrah ke Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi di sana tengah melaksanakan puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram untuk memperingati selamatnya Nabi Musa.
Rasulullah SAW pun menyatakan bahwa ia lebih berhak menjalankan puasa tersebut dan akhirnya mengadopsi kebiasaan itu untuk umatnya.
Namun, setahun kemudian, Allah menurunkan wahyu dalam Surat Al-Baqarah ayat 183 dan 185 yang menetapkan puasa Ramadan sebagai kewajiban bagi umat Islam.
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (Al-Baqarah ayat 183).