Sejarah Puasa Ramadan, Perjalanan Penuh Hikmah dalam Islam

Ibrahim Shiddiq, Redaksi88
- Minggu, 2 Maret 2025 | 13:54 WIB
Ilustrasi fofo - Sejarah Puasa Ramadan, Perjalanan Penuh Hikmah dalam Islam. (Freepik / rawpixel.com)
Ilustrasi fofo - Sejarah Puasa Ramadan, Perjalanan Penuh Hikmah dalam Islam. (Freepik / rawpixel.com)

Baca Juga: Mengapa Puasa Begitu Istimewa? Ini 6 Keutamaannya Menurut Hadis

Artinya: Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah.

Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur." (Al-Baqarah 185).

Dengan demikian, puasa Ramadan menggantikan puasa Asyura sebagai ibadah wajib, mengukuhkan puasa selama 30 hari berturut-turut sebagai ritual yang harus dijalankan oleh setiap Muslim yang mampu.

Baca Juga: Keutamaan, Waktu dan Tata Cara Pelaksanaan Shalat Witir

3. Tantangan Awal dan Keringanan dari Allah

Pada awalnya, puasa Ramadan dirasakan sangat berat oleh umat Islam. Mereka harus menahan lapar dan dahaga sepanjang hari, bahkan di musim panas dengan cuaca terik, serta hanya mengonsumsi sahur dan berbuka dengan menu seadanya.

Di tengah kesulitan itu, terdapat pula peristiwa yang mengubah aturan puasa. Seorang sahabat Rasulullah yang bekerja keras hingga pingsan karena kelaparan menjadi titik balik.

Mendengar kabar tersebut, Rasulullah SAW berdoa kepada Allah, dan kemudian Allah menurunkan peraturan baru melalui Surat Al-Baqarah ayat 187.

Peraturan itu menetapkan waktu puasa mulai dari terbit fajar (Subuh) hingga terbenam matahari (Maghrib) serta memperbolehkan makan dan minum sepanjang malam.

Kemudahan ini juga mencakup aturan bagi suami istri yang dapat berhubungan intim pada malam hari setelah berbuka puasa.

Selain itu, bagi mereka yang mengalami kesulitan karena sakit atau dalam perjalanan (musafir), diizinkan untuk tidak berpuasa dan menggantinya di hari lain.

Baca Juga: Bacaan Niat Puasa Ramadhan dan Panduan Mengucapkan Niat Puasa yang Benar

4. Kemudahan dan Penyesuaian Ibadah Puasa

Pengaturan Waktu dan Aturan Fidyah

Allah SWT dengan penuh kasih memberikan kemudahan bagi umat Islam dalam menjalankan puasa.

Jika seseorang karena alasan kesehatan atau perjalanan tidak dapat berpuasa, maka ia diperintahkan untuk mengganti puasanya di hari lain.

Halaman:

Editor: Ibrahim Shiddiq

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X