Hal ini membuat mereka lebih rentan terhadap perilaku berisiko, termasuk berbagi konten yang bersifat intim.
Steinberg juga menyoroti bahwa remaja lebih cenderung fokus pada hasil jangka pendek (seperti perhatian atau penerimaan sosial) daripada risiko jangka panjang, seperti penyebaran konten tanpa izin.
Tekanan Sosial dan Peer Pressure
Pakar Mitch Prinstein, menyoroti bahwa tekanan dari teman sebaya memiliki dampak signifikan pada perilaku daring remaja.
Baca Juga: Menteri BUMN di Era Prabowo-Gibran, Berani Bilang 'NO' dan Paham Peta Ekonomi Nasional
Prinstein berpendapat bahwa remaja yang merasa terisolasi atau tidak diterima oleh kelompok sosial mereka mungkin lebih rentan terhadap tekanan untuk terlibat dalam perilaku berisiko seperti sexting, sebagai cara untuk diterima oleh kelompok sosial mereka.
Tekanan ini sering kali disertai dengan kebutuhan akan validasi atau penerimaan, yang mendorong remaja untuk mengambil keputusan yang berisiko.
Pengaruh Media Sosial dan Kultur Digital
Psikolog Jean Twenge, berpendapat bahwa budaya digital saat ini memberikan pengaruh besar terhadap perilaku remaja.
Twenge menyatakan bahwa remaja saat ini hidup dalam dunia di mana eksposur diri secara online, termasuk berbagi konten intim, menjadi sesuatu yang lebih umum dan diterima di antara kalangan remaja.
Baca Juga: Kisah Davina Karamoy Perjalanan Spiritual yang Menginspirasi di Usia Muda
Ini disertai dengan pengaruh media sosial yang memperkuat budaya pencarian validasi melalui likes, comments, atau share.
Dampak Psikologis Jangka Panjang
Menurut Elisabeth Schroeder, pakar dalam pendidikan seksual, dampak psikologis dari keterlibatan dalam video syur bisa sangat merusak, terutama ketika konten tersebut tersebar luas tanpa persetujuan.
Remaja yang menjadi korban dari penyebaran video syur dapat mengalami depresi, kecemasan, rasa malu yang ekstrem, dan bahkan trauma jangka panjang. Mereka juga rentan terhadap cyberbullying, yang semakin memperburuk dampak psikologis tersebut.