REDAKSI88.com - Pada malam ke 27 Ramadhan, biasanya langit Bengkulu Selatan berubah menjadi kanvas cahaya yang memukau.
Bukan kembang api mewah, melainkan nyala api sederhana dari tempurung kelapa yang disusun tinggi, menciptakan pemandangan yang tak terlupakan.
Inilah tradisi nujuh likur, sebuah perayaan unik yang menyatukan masyarakat dalam semangat kebersamaan dan syukur.
Nujuh likur bukan sekadar membakar tempurung kelapa. Di balik nyala api yang menari-nari, tersimpan makna mendalam.
Baca Juga: Ini 5 Tradisi Unik Ramadhan dari Lentera Mesir Hingga Meriam Lebanon
Tempurung kelapa, simbol dari pohon kehidupan yang serba guna, dibakar sebagai ungkapan syukur atas berkah Ramadhan yang hampir usai.
Nyala api yang terang benderang menjadi penanda datangnya hari kemenangan, Idul Fitri.
Tradisi ini bukan hanya milik individu, tetapi milik seluruh masyarakat Bengkulu Selatan.
Nujuh likur adalah warisan budaya yang dijaga dan dilestarikan dari generasi ke generasi.
Baca Juga: Mengenal Tradisi Balimau Mensucikan Diri Menyambut Ramadhan di Minangkabau
Tradisi ini bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang masa depan.
Dengan melibatkan anak-anak dan remaja, tradisi ini terus hidup dan relevan di tengah perubahan zaman.
Suasana nujuh likur begitu meriah dan penuh sukacita. Warga berkumpul, berbagi cerita, dan menikmati keindahan nyala api.