Bahaya Gaya Hidup Mager, Ancaman Nyata bagi Kesehatan dan Risiko Kanker

Ibrahim Shiddiq, Redaksi88
- Rabu, 4 Desember 2024 | 12:24 WIB
 (Foto Ilustrasi/Freepik)
(Foto Ilustrasi/Freepik)

Redaksi88.com – Gaya hidup sedentari atau yang lebih akrab disebut “mager” (malas gerak) kini menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat modern. 

Selain dikaitkan dengan penyakit seperti obesitas, diabetes, dan gangguan kardiovaskular, penelitian terbaru menunjukkan bahwa mager juga berkontribusi pada peningkatan risiko kanker tertentu.

Baca Juga: BMKG Imbau Waspada Cuaca Ekstrem Selama Nataru 2024-2025

Mager dan Risiko Kanker

Menurut data yang dipublikasikan oleh Journal of the National Cancer Institute, duduk terlalu lama lebih dari dua jam sehari dapat meningkatkan risiko beberapa jenis kanker:

Kanker kolon: Risiko meningkat sebesar 8%.

Kanker paru-paru: Risiko meningkat sebesar 6%.

Kanker rahim: Risiko meningkat hingga 10%.

Penelitian ini mengaitkan gaya hidup malas gerak dengan obesitas serta pola makan tinggi gula dan kalori, yang keduanya merupakan faktor pemicu kanker.

Baca Juga: KPK Sita Rp6,8 Miliar dalam OTT Pj Wali Kota Pekanbaru

Tidak hanya itu, mager juga membuat tubuh kehilangan manfaat aktivitas fisik, seperti olahraga, yang dapat mengurangi risiko kanker.

Selain itu, stres dan depresi yang sering menyertai gaya hidup sedentari juga turut memicu pertumbuhan sel kanker. Kurangnya gerakan fisik memengaruhi produksi hormon stres, seperti kortisol, yang jika dibiarkan bisa mengganggu sistem kekebalan tubuh.

Olahraga Sebagai Perisai Tubuh

Salah satu langkah sederhana namun efektif untuk melawan dampak buruk mager adalah dengan berolahraga selama 30-60 menit setiap hari. Aktivitas fisik terbukti mampu:

1. Mengatur kadar hormon penyebab kanker: Olahraga membantu menjaga keseimbangan hormon, terutama estrogen, yang jika berlebihan dapat memicu kanker payudara atau endometrium.

2. Mempercepat proses pencernaan: Dengan pencernaan yang lebih cepat, zat karsinogenik tidak akan mengendap terlalu lama di usus, sehingga menurunkan risiko kanker kolon.

Halaman:

Editor: Ibrahim Shiddiq

Sumber: National Cancer Institute, Journal of the National Cancer Institute

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X