- Investasi pada Barang yang Nilainya Cepat Menurun
Membeli mobil baru atau barang mewah demi gengsi dapat berdampak negatif terhadap kondisi keuangan.
Steven Neeley dari Fortress Capital Advisors menyarankan:
"Daripada mobil mahal yang nilainya turun drastis, lebih baik beli mobil bekas yang masih layak pakai," ungkap Steven.
Baca Juga: 5 Bahan Alami untuk Mengempukkan Daging, Mudah Didapat di Dapur
- Terus Membiayai Anak yang Sudah Dewasa
Banyak orang tua masih menanggung kebutuhan anak-anaknya meskipun mereka sudah dewasa, yang bisa mengganggu rencana keuangan jangka panjang.
"Lebih baik bantu mereka mandiri, dan fokus ke dana hari tua Anda sendiri," tutur Merry.
- Berhemat secara Berlebihan (Frugal Overload)
Berhemat memang penting, tetapi terlalu menekan pengeluaran dapat menimbulkan efek sebaliknya.
"Lebih baik beli barang yang kualitasnya bagus, meski sedikit lebih mahal," ujar Percy Grunwald dari Compare Banks.
Baca Juga: Fakta Sejarah 1 Juni Hari Lahir Pancasila, Sempat Dilarang di Era Presiden Soeharto
- Gaya Hidup yang Naik Tak Seiring Kemampuan Finansial
Dennis Shirshikov dari Awning menyatakan bahwa banyak orang meningkatkan gaya hidup mereka seiring kenaikan penghasilan, tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang.
- Belanja karena Tekanan Sosial dan Gengsi
Fenomena pengeluaran demi menjaga citra sosial juga menjadi penyebab krisis keuangan yang diam-diam menghantui kelas menengah.
"Saya punya kolega yang gajinya besar, tapi selalu habis demi gadget terbaru atau liburan mewah," kata Shirshikov.
Meskipun terlihat sepele, ketujuh kesalahan ini berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang terhadap kondisi keuangan, mulai dari tabungan yang terkikis hingga gagalnya rencana pensiun yang layak, khususnya bagi mereka yang berada di lapisan kelas menengah.***