7 Kesalahan Finansial yang Sering Dilakukan Kelas Menengah, dari Utang Konsumtif hingga Gaya Hidup Demi Gengsi

Syamsu Rizal, Redaksi88
- Jumat, 8 Agustus 2025 | 10:00 WIB
Ilustrasi kesalahan finansial warga kelas menengah menurut pakar keuangan. (Unsplash.com/Towfiqu)
Ilustrasi kesalahan finansial warga kelas menengah menurut pakar keuangan. (Unsplash.com/Towfiqu)
  1. Investasi pada Barang yang Nilainya Cepat Menurun

Membeli mobil baru atau barang mewah demi gengsi dapat berdampak negatif terhadap kondisi keuangan.

Steven Neeley dari Fortress Capital Advisors menyarankan:

"Daripada mobil mahal yang nilainya turun drastis, lebih baik beli mobil bekas yang masih layak pakai," ungkap Steven.

Baca Juga: 5 Bahan Alami untuk Mengempukkan Daging, Mudah Didapat di Dapur

  1. Terus Membiayai Anak yang Sudah Dewasa

Banyak orang tua masih menanggung kebutuhan anak-anaknya meskipun mereka sudah dewasa, yang bisa mengganggu rencana keuangan jangka panjang.

"Lebih baik bantu mereka mandiri, dan fokus ke dana hari tua Anda sendiri," tutur Merry.

  1. Berhemat secara Berlebihan (Frugal Overload)

Berhemat memang penting, tetapi terlalu menekan pengeluaran dapat menimbulkan efek sebaliknya.

"Lebih baik beli barang yang kualitasnya bagus, meski sedikit lebih mahal," ujar Percy Grunwald dari Compare Banks.

Baca Juga: Fakta Sejarah 1 Juni Hari Lahir Pancasila, Sempat Dilarang di Era Presiden Soeharto

  1. Gaya Hidup yang Naik Tak Seiring Kemampuan Finansial

Dennis Shirshikov dari Awning menyatakan bahwa banyak orang meningkatkan gaya hidup mereka seiring kenaikan penghasilan, tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang.

  1. Belanja karena Tekanan Sosial dan Gengsi

Fenomena pengeluaran demi menjaga citra sosial juga menjadi penyebab krisis keuangan yang diam-diam menghantui kelas menengah.

"Saya punya kolega yang gajinya besar, tapi selalu habis demi gadget terbaru atau liburan mewah," kata Shirshikov.

Meskipun terlihat sepele, ketujuh kesalahan ini berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang terhadap kondisi keuangan, mulai dari tabungan yang terkikis hingga gagalnya rencana pensiun yang layak, khususnya bagi mereka yang berada di lapisan kelas menengah.***

Halaman:

Editor: Syamsu Rizal

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X