Kaum tua bertugas memasak gulai, sementara generasi muda melanjutkan hiburan dengan menari andun secara berpasangan sambil menunggu gulai kerbau matang.
Tahapan terakhir adalah tari berpasangan atau lelawanan. Setelah seluruh rangkaian tari kebanyakan selesai, kedua pengantin dipersilakan beristirahat di atar-atar.
Pada tahap ini, singal panjang yang dikenakan pengantin perempuan dilepas dan diganti dengan singal melayu serta penutup wajah sersit berwarna merah.
Sementara itu, pengantin laki-laki berganti pakaian menjadi kemeja biasa untuk berinteraksi dengan para tamu, baik bujang maupun gadis.
Pakaian adat pengantin laki-laki untuk sementara dikenakan oleh pengantin mata guna menutup rangkaian tari lelawanan sekaligus melaksanakan tradisi mbelanjau.
Baca Juga: Sempat Dilaporkan Hilang, Mbah Imam Ditemukan Selamat di Hutan Argasoka Banjarnegara
Selama masa istirahat, pengantin menyaksikan tari berpasangan yang dilakukan oleh para bujang dan gadis.
Jika tidak terdapat pasangan bujang gadis, maka tarian dapat dilakukan oleh pasangan suami istri, dengan ketentuan tidak memiliki hubungan darah.
Konsep tari berpasangan atau lelawanan ini serupa dengan tari andun dalam acara gegerit malam.
Para penari menampilkan gerakan secara berpasangan dengan suasana penuh kegembiraan, yang mencakup gerakan naup, mbuka, serta nyentang atau nyengkeling, dengan batasan gerak yang dibatasi oleh lunjuk.***
Artikel Terkait
Mengapa Banjir Menyapa Kaum Lemah dan Di Manakah Keadilan Sesungguhnya? Refleksi Akhir Tahun 2025 untuk Bengkulu
Kota Bengkulu Darurat Sampah, Dari Pantai hingga TPA Air Sebakul
Relawan Kebencanaan di Garis Depan, Perlindungan di Garis Belakang
Bencana, oh bencana, kenapa engkau ramah sekali? Mungkinkah Tuhan sedang marah?
Arah Baru Fundruiser Indonesia