REDAKSI88.com - Bagi jamaknya kaum urban, deru mesin motor di pagi buta adalah simfoni pembuka menuju kenyamanan ruang kantor yang sejuk. Namun, bagi Silvatri Reza Vianda atau yang akrab disapa Bu Icha—suara motor tuanya adalah genderang perang. Sebuah tanda dimulainya duel harian melawan medan ekstrem Sumatera Barat yang tak mengenal kompromi.
Semenjak menerima SK PPPK dua tahun silam, takdir pengabdian membawa Bu Icha ke SDN 08 Nenan, Nagari Maek, Kabupaten Lima Puluh Kota. Sekolah ini bukanlah sekadar ruang kelas biasa; ia adalah ujian kesabaran yang tersembunyi di balik rimbunnya hutan dan kecuraman jalanan tanah yang mencekam.
Setiap fajar, Bu Icha harus berjibaku dengan jalur yang sulit dinalar oleh mereka yang terbiasa dengan aspal mulus. Terjatuh dari kendaraan, memapah motor di tanjakan tanah liat, hingga berkubang dalam lumpur telah menjadi "menu sarapan" yang tak terelakkan.
"Mendorong dan memapah motor hingga terjatuh sudah menjadi rutinitas hampir setiap hari. Saya dan rekan benar-benar kesulitan melewati beberapa titik yang dianggap ekstrem untuk seorang wanita," ujarnya saat menceritakan pengalamannya seperti dikutip dari Livantara.com, Kamis, (9/4/2026).
Bahaya sering kali mengintai tanpa peringatan. Bu Icha mengisahkan momen mencekam saat rem motornya mendadak blong di tengah antah-berantah. Di lokasi tanpa sinyal dan tanpa pemukiman itu, ia hanya bisa berserah sembari menanti jemputan sang suami.
Tak jarang, hujan lebat mengguyur saat ia masih terperangkap di jantung hutan. Di sana, berteduh adalah kemewahan yang mustahil karena ketiadaan atap warga.
"Batin hanya berdoa semoga motor tidak rusak di jalan dan secepatnya sampai daerah pemukiman," ucapnya lirih.
Ketangguhannya pun sempat terekam dalam unggahan di akun TikTok pribadinya, @revo_matic. Video tersebut memperlihatkan dahsyatnya aliran sungai yang meluap tiba-tiba, memaksa Bu Icha mematung di tepian.
Ia terpaksa menunggu warga yang melintas demi membantu menyeberangkan motornya di tengah isolasi komunikasi.
Lantas, apa yang membuat guru tangguh ini urung menyerah? Jawabannya tertambat pada 114 pasang mata yang berbinar di gerbang sekolah.
Baca Juga: Viral WNA Asal Italia Tampar Warga di Denpasar karena Terganggu Suara Bising
Begitu roda motornya menyentuh halaman sekolah, segala kepenatan seolah menguap ke udara. Teriakan riuh para siswa yang memanggil namanya menjadi melodi penyemangat yang tiada tara.
"Telinga saya sudah diaktifkan dengan seruan 'ibuuuk... ibuuuk... ibuuuk...'. Di situlah penat dan letih saya di perjalanan hilang seketika. Sentuhan tangan mungil mereka untuk bersalaman adalah pengobat dinginnya embun di pagi hari," tuturnya.