Sejarah Shalat Tarawih, Dari Rasulullah Hingga Tradisi Masa Kini

Ibrahim Shiddiq, Redaksi88
- Minggu, 2 Maret 2025 | 14:15 WIB
Ilustrasi foto - Sejarah Shalat Tarawih, Dari Rasulullah Hingga Tradisi Masa Kini. (Freepik)
Ilustrasi foto - Sejarah Shalat Tarawih, Dari Rasulullah Hingga Tradisi Masa Kini. (Freepik)

2. Menghindari Kesalahpahaman Umat

Dalam Islam, sesuatu yang ditekuni secara terus-menerus oleh Nabi kerap dianggap sebagai kewajiban. Jika Rasulullah tak pernah meninggalkan Tarawih berjamaah, umat bisa salah kaprah menganggapnya sebagai fardhu. 

Sebagaimana dijelaskan dalam Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, "Sesungguhnya Nabi ketika menekuni suatu amal kebaikan dan diikuti umatnya, maka perkara tersebut telah diwajibkan atas umatnya."

Langkah ini menunjukkan kebijaksanaan Rasulullah SAW dalam menjaga keseimbangan antara semangat ibadah dan kemudahan hukum bagi umatnya.

Baca Juga: Rekomendasi Takjil yang paling digemari, Lezat dan Menyegarkan untuk Berbuka Puasa

3. Dari Privat Menjadi Jamaah, Peran Umar bin Khattab

Pasca wafatnya Rasulullah, shalat Tarawih tetap dilaksanakan, tetapi dengan pola yang lebih fleksibel, ada yang melakukannya sendiri di rumah, ada pula yang berjamaah dalam kelompok-kelompok kecil. 

Hingga pada masa Khalifah Umar bin Khattab, beliau melihat bahwa umat Islam membutuhkan struktur yang lebih tertata.

Umar kemudian mengumpulkan kaum Muslimin dalam satu shaf di bawah imam tunggal, yakni Ubay bin Ka'ab. Sejak saat itu, shalat Tarawih berjamaah di masjid menjadi sebuah tradisi yang terus berkembang hingga kini. 

Umar pun dengan rendah hati menyebut kebijakan ini sebagai "inovasi yang baik", sebuah istilah yang menunjukkan bahwa ajaran Rasulullah tetap dijaga esensinya, namun dalam bentuk yang lebih teratur dan terarah.

Baca Juga: Dari Lontong Tunjang hingga Sembam Ikan Marola, Ini Kuliner Khas Bengkulu yang Wajib dicoba saat Berkunjung ke Bengkulu

4. Dinamika Rakaat dan Tradisi di Berbagai Wilayah

Dalam hadist di atas, tidak disebutkan jumlah pasti rakaat shalat Tarawih. Seiring waktu, jumlah rakaatnya berkembang berdasarkan ijtihad para ulama. 

Di masa Rasulullah, Tarawih disebut dilakukan 11 rakaat, termasuk witir. Sementara di era Umar bin Khattab, Tarawih biasa dilakukan dengan 20 rakaat, yang kemudian menjadi standar di banyak wilayah Muslim, termasuk Nusantara.

Tak hanya jumlah rakaat, cara pelaksanaan Tarawih juga beragam di berbagai negara. Di Makkah dan Madinah, shalat ini berlangsung dengan bacaan panjang, sementara di Indonesia, Tarawih lebih ringkas agar bisa diikuti oleh lebih banyak jamaah.

Baca Juga: Mengapa Puasa Begitu Istimewa? Ini 6 Keutamaannya Menurut Hadis

5. Tarawih, Antara Spiritualitas dan Kebijaksanaan

Dari sebuah ibadah yang awalnya bersifat privat, shalat Tarawih kini menjadi salah satu tradisi yang paling dinanti di bulan Ramadhan. 

Namun, lebih dari sekadar rutinitas, ada kebijaksanaan besar di baliknya, sebuah pelajaran tentang keseimbangan antara semangat ibadah dan kemudahan bagi umat.

Halaman:

Editor: Ibrahim Shiddiq

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X