Kisah Sahabat Rasulullah SAW yang Diperebutkan Para Bidadari

Syamsu Rizal, Redaksi88
- Jumat, 6 Desember 2024 | 09:41 WIB
Ilustrasi-Kisah Sahabat Rasulullah SAW yang Diperebutkan Para Bidadari. (Foto/Istimewa)
Ilustrasi-Kisah Sahabat Rasulullah SAW yang Diperebutkan Para Bidadari. (Foto/Istimewa)

Mendengar jawaban istrinya tersebut Julaibib merasa senang. Namun tak berselang lama tiba tiba terdengar suara orang mengetuk pintu. 

Julaibib pun bergegas membuka pintu. “Assalamualaikum, Rasulullah meminta kita berkumpul di Masjid. Karena ada panggilan jihad,” kata tamu itu. 

“Waalaikumsalam, baiklah. Aku akan segera datang,” jawab Julaibib. 

Julaibib pun pamit kepada istrinya, “Wahai istriku berilah ridhomu atas keberangkatanku ke medan jihad. Sungguh aku bahagia bersamamu, hatiku penuh dengan cinta. Namun cintaku kepadamu bukankah tak sepantasnya melebihi cintaku pada panggilannya,” kata Julaibib. 

Mendengar ucapan suaminya itu, istri Julaibib meneteskan air mata. Sebab, mereka baru saja menikah pada siang hari dan pada malam harinya suaminya harus berperang ke medan jihad. 

Baca Juga: Menepis Keraguan Menikah, Proses Ibadah Suci yang Penuh Makna

Lalu istri Julaibib berkata, “Berangkatlah doa dan ridhoku menyertaimu wahai suamiku, bunga bunga cinta baru saja mekar di hatiku. Namun cintaku padamu tak sepantasnya menghalangiku untuk melepasmu.”

Keduanya lalu berpisah dalam keharuan. Julaibib lantas berangkat ke medan perang, ia berperang dengan gagah berani menumpas para musuh di medan Uhud. 

Saat perang telah berakhir Rasulullah SAW mencari Julaibib. “Aku kehilangan Julaibib, dimana dia”. 

Bergegas para sahabat lalu mencari Julaibib, mereka lantas menemukan Julaibib yang ternyata yang telah syahid di medan perang dan tubuhnya penuh dengan luka. 

Rasulullah SAW begitu sedih melihatnya. Lalu beliau sendiri yang mengkafani Julaibib dan mensholatkannya. Saat Julaibib selesai dimakamkan terjadilah peristiwa yang menakjubkan.

Baca Juga: Tetap Tegar di Tengah Masa Sulit: Pelajaran Hidup dan Motivasi untuk Bertahan 

Rasulullah menangis air matanya menetes sembari melihat gundukan tanah yang masih basah. Beliau lantas memandang ke langit dan tersenyum, lalu membuang pandangannya ke samping. Seraya menutup mata dengan telapak tangannya. 

Para sahabat yang melihat kejadian itu terheran heran dan lantas bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah mengapa engkau menangis di pusara Julaibib? 

“Aku menangis karena mengingat Julaibib, hari ini dia memintaku merestuinya untuk menikah. Semestinya hari ini dia tengah bahagia bersama istrinya. Namun hari ini juga ia telah tiada,” jawab Rasulullah. 

Halaman:

Editor: Syamsu Rizal

Sumber: Berbagai Sumber

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X