Permata yang Terus Dicari

Syamsu Rizal, Redaksi88
- Jumat, 6 Desember 2024 | 10:53 WIB
Ilutrasi- TASAWUF bagian dari ilmu-ilmu Islam yang sangat sedikit mendapat perhatian. Tasawuf pun dianggap sebagai hal yang sulit untuk dipahami.  (Foto/Istimewa)
Ilutrasi- TASAWUF bagian dari ilmu-ilmu Islam yang sangat sedikit mendapat perhatian. Tasawuf pun dianggap sebagai hal yang sulit untuk dipahami.  (Foto/Istimewa)

Wujil kemudian diberi pelajaran syariat aqidah dan tasawuf. Di sini sang pangeran menemukan kepuasan batin.

Dalam mengajarkan usaha mencari kebenaran kepada muridnya, seorang Sufi selalu menekankan pada pengalaman langsung setiap pribadi murid-muridnya. 

Pengenalan kebenaran melalui pendengaran dan penglihatan atau pengetahuan yang ‘dipompakan’ dari orang lain (guru), tidaklah cukup. 

Tapi, penyaksian sendiri dengan nyata, sangat dibutuhkan untuk mendapatkan ma’rifat. Inilah tujuan universal tasawuf yang juga adalah sumber kepastian dan keyakinan, tempat bersemayam iman.

“Karena itu tasawuf berbeda dengan filsafat rasional yang dikem- bangkan dunia Barat yang merupakan sarang sak wasangka,” jelas Budhy. 

“Salah satu daya tarik tasawuf adalah kisah-kisah dan ajaran para Sufi. Selain ketajaman daya tukiknya, juga humor-humornya menakjubkan dan hidup. Tetapi, setiap kisah- kisah humornya selalu memiliki satu titik hikmah penting,” lanjut Budhy menjelaskan.

Baca Juga: Inilah Keutamaan Bersedekah yang Wajib Diketahui

Namun sayang, melalui perjalanan waktu yang panjang serta ribuan pertentangan yang melelahkan dan sia-sia, mutiara-mutiara hikmah Tasawuf itu hilang dari penglihatan ummat.

Usaha pemahaman tasawuf di tanah air dalam pandangan ini sebenarnya sudah dimulai tokoh-tokoh reformasi Islam.

Buya Hamka umpannya, dalam karya-karyanya, ia terus-menerus memurnikan faham tasawuf. Karya Hamka yang terkenal antara lain, Tasawuf Modern dan Mengembalikan Tasawuf ke Pangkalnya, bisa dijadikan bukti.

Demikian pula di masa kini, banyak bermunculan pemikir- pemikir muda yang punya niat bersih memurnikan tasawuf. 

Baca Juga: Kisah Sahabat Rasulullah SAW yang Diperebutkan Para Bidadari

“Mereka datang bukan menjadikan Tasawuf sebagai pelarian dari kejenuhan hidup, melainkan ingin mencapai posisi hidup yang lebih berarti lagi dalam hubungan dengan Tuhan, sesama manusia maupun alam,” jelas Budhy.

Tasawuf pernah dituding sebagai penyebab kemunduran Islam. Alasannya, karena Tasawuf terlalu sering berhubungan dengan kebatinan, atau mengkultuskan sang tokoh aliran tarekatnya.

“Sebenarnya ungkapan tersebut datang dari mereka yang tidak mengenal tasawuf,” kata pria yang juga sebagai redaktur pelaksana Jurnal Ilmiah Ummu Qur’an ini. ***

Halaman:

Editor: Syamsu Rizal

Sumber: Warna Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X