Redaksi88.com – Tekanan yang cukup berat industri asuransi umum pada 2024 dipengaruhi secara signifikan oleh adanya turbulensi atau fluktuasi tekanan terhadap industri global hingga Asia.
Menurut Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Budi Herawan, dampak tekanan asuransi global itu berimbas ke industri asuransi Asia hingga Indonesia.
“Tekanan akibat bencana alam global menyebabkan kondisi perusahaan melakukan perubahan strategi investasi karena tekanan klaim yang besar. Akibatnya ke industri serupa di Tanah Air. Premi menjadi lebih mahal, risiko menjadi lebih meningkat," kata Budi.
Baca Juga: Prabowo Akui Tak Lagi Muda, Ungkap Misi Besar Tinggalkan Warisan Terbaik untuk RI
Ia menambahkan, tekanan tersebut mengakibatkan pelemahan hasil underwriting serta peningkatan pada cadangan premi dan cadangan klaim. Kondisi ini pada akhirnya berdampak pada penurunan laba perusahaan.
Mengacu pada data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), industri asuransi umum masih mencatat laba setelah pajak sebesar Rp7,80 triliun pada 2023.
Namun, angka tersebut merosot drastis menjadi rugi sebesar Rp10,14 triliun pada 2024 turun hingga 197,8 persen.
Di sisi lain, pasar asuransi global juga mengalami kerugian besar akibat bencana alam.
Pada 2024, total klaim yang harus ditanggung perusahaan asuransi global mencapai US$137 miliar atau sekitar Rp2.219 triliun.
Menurut laporan dari perusahaan reasuransi Swiss Re, angka kerugian tersebut melanjutkan tren kenaikan tahunan sebesar 5 hingga 7 persen selama beberapa tahun terakhir.
Jika tren ini terus berlanjut, kerugian yang ditanggung industri asuransi global pada 2025 diperkirakan akan mendekati US$145 miliar.
Pertumbuhan kerugian ini berpotensi menjadikan tahun 2025 sebagai salah satu periode dengan nilai klaim terbesar dalam sejarah industri asuransi.