REDAKSI88.com – Sebuah unggahan menyentuh hati mengenai bahaya virus campak viral di media sosial, mengingatkan publik akan fatalitas penyakit yang kerap dianggap remeh ini.
Kabar duka tentang meninggalnya seorang bayi berusia 3 bulan di ruang isolasi memicu gelombang simpati sekaligus peringatan keras bagi para orang tua untuk tidak mengabaikan gejala awal ruam merah.
Kisah ini bermula dari unggahan akun TikTok @dheaaputri_ pada Senin (30/3/2026). Dalam video yang telah ditonton lebih dari 2,8 juta kali tersebut, terdengar suara tangisan histeris orang tua yang kehilangan anaknya, bayi Arumi (3 bulan), akibat komplikasi campak.
Mendiang bayi tersebut diduga tertular dari anak tetangga yang baru saja sembuh dan berkunjung ke rumahnya.
Baca Juga: Dukung Menkop Ferry Juliantono, Pengamat: Distribusi Truk India Perkuat Logistik Koperasi Desa
“Sore tadi ibunya cerita ada anak tetangganya baru sembuh dari campak main ke rumah, ternyata nularin ke anaknya. Bener-bener jahat emang virus yang satu ini,” tulis pengunggah dalam kolom takarir.
Menanggapi video tersebut, akun Instagram @pempek_mama_aya turut membagikan edukasi penting. Ia menekankan agar orang tua segera membawa anak ke IGD jika muncul gejala spesifik, dan tidak menunggu hingga ruam memenuhi seluruh tubuh sebagaimana mitos yang beredar di masyarakat.
Beberapa gejala kunci yang wajib diwaspadai antara lain demam tinggi, batuk dan pilek serta muncul ruam merah yang dimulai dari belakang telinga.
Baca Juga: Atasi Darurat Sampah, Pemerintah Percepat Pembangunan Fasilitas PSEL di Banten dan Jawa Tengah
Status Kejadian Luar Biasa (KLB) di Indonesia
Kondisi ini sejalan dengan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI yang menunjukkan peningkatan kasus secara nasional. Hingga minggu ke-11 tahun 2026, tercatat sebanyak 58 Kejadian Luar Biasa (KLB) campak yang tersebar di 39 kabupaten/kota di 14 provinsi.
Meskipun tren total kasus mulai menurun dari 2.740 di awal tahun menjadi 177 kasus, risiko kematian tetap tinggi. Ancaman ini terbukti nyata tidak hanya bagi anak-anak, tetapi juga tenaga medis.
Baru-baru ini, seorang dokter internship berinisial AMW (25) di Cianjur dilaporkan meninggal dunia akibat komplikasi campak yang menyerang otak dan jantung.
Menyikapi situasi ini, pemerintah melalui Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/1602/2026 menginstruksikan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan untuk memperkuat langkah pencegahan, meliputi, skrining dan triase dini bagi pasien bergejala, penyiapan ruang isolasi khusus.