Redaksi88.com - Nama Thomas Trikasih Lembong, atau Tom Lembong, mencuat kembali ke panggung nasional, bukan hanya karena rekam jejaknya yang gemilang di bidang keuangan dan kebijakan, tetapi juga kontroversi yang kini melingkupinya.
Sebagai ekonom berpengaruh dan mantan pejabat tinggi Indonesia, perjalanan Tom Lembong menggambarkan sosok profesional dengan pengalaman luas sekaligus penuh tantangan.
Lantas, siapa Tom Lembong? Seperti dirangkum dari berbagai sumber ini profil Tom Lembong.
Tom adalah lulusan Harvard University di bidang arsitektur dan perencanaan kota. Berbeda dari latar akademiknya, ia memilih merintis karier di dunia keuangan.
Bermula sebagai analis di Morgan Stanley, Tom melanjutkan kariernya di Deutsche Securities di Jakarta sebelum mendirikan Quvat Management pada 2006.
Baca Juga: Prabowo Selalu Suarakan Antikorupsi, Peneliti: Kesungguhan Lanjutkan Legasi Sang Kakek dan Ayah
Quvat, sebuah firma ekuitas swasta, fokus pada investasi di Asia Tenggara, menjadikan Tom salah satu pelaku utama dalam pengembangan sektor keuangan di wilayah ini.
Karier politik Tom mencapai puncaknya saat Presiden Joko Widodo mempercayainya sebagai Menteri Perdagangan pada 2015-2016, posisi yang memberikan ruang bagi dirinya untuk mendorong berbagai reformasi perdagangan.
Tahun berikutnya, ia dipindahkan untuk memimpin Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) hingga 2019, di mana ia mengarahkan kebijakan investasi yang lebih terbuka dan ramah bagi investor asing.
Selain itu, ia juga mendirikan Consilience Policy Institute, sebuah lembaga think-tank yang mempromosikan kebijakan ekonomi reformis di Indonesia.
Baca Juga: Ketegasan Prabowo terhadap Korupsi, Oase di Wajah Politik RI
Atas kontribusinya, Tom menerima Medali Gwanghwa dari Korea Selatan pada 2020, sebuah penghargaan yang mencerminkan upayanya mempererat hubungan diplomatik dan kerjasama ekonomi antara kedua negara.
Namun, di balik deretan pencapaian ini, reputasi Tom Lembong baru-baru ini diterpa kontroversi. Pada akhir Oktober 2024, Kejaksaan Agung menetapkan Tom sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi impor gula.
Kasus ini menghebohkan publik karena Tom Lembong selama ini dikenal sebagai sosok reformis yang berdiri di balik kebijakan ekonomi yang transparan dan progresif.