nasional

Studi Stanford: Tertawa Mulai Jarang pada Usia 23 Tahun, Dunia Kerja Jadi Penyebab Utama

Senin, 30 Desember 2024 | 16:35 WIB
Ilustrasi- Studi Stanford: Tertawa Mulai Jarang pada Usia 23 Tahun, Dunia Kerja Jadi Penyebab Utama. (Freepik/rawpixel.com)

REDAKSI88.com - Peneliti Jennifer Aaker dan Naomi Bagdonas dari Stanford University menemukan bahwa frekuensi seseorang tertawa mulai menurun drastis pada usia 23 tahun, ketika individu memasuki dunia kerja. 

Studi yang melibatkan 1,4 juta orang dari 166 negara ini menunjukkan bahwa profesionalisme sering kali membuat pekerja enggan menunjukkan humor atau sisi asli kepribadian mereka di tempat kerja.

Baca Juga: BI Buka Suara Soal Temuan Sertifikat Palsu di UIN Makassar Bukan Uang Palsu

Penyebab Jarangnya Humor di Dunia Kerja

Aaker dan Bagdonas mengidentifikasi empat alasan utama mengapa pekerja jarang tertawa atau menggunakan humor:

  1. Lingkungan Serius
    Humor sering dianggap tidak pantas di lingkungan kerja yang serius, sehingga pekerja memilih untuk menahan diri.
  2. Ketakutan Gagal
    Ada rasa takut bahwa lelucon yang dilontarkan tidak akan diterima dengan baik atau dianggap gagal, yang justru bisa menciptakan kecanggungan.
  3. Anggapan Eksklusivitas
    Banyak yang percaya bahwa hanya individu dengan bakat alami yang mampu membuat orang lain tertawa, sehingga mereka ragu untuk mencoba.
  4. Humor sebagai Bakat Bawaan
    Keyakinan bahwa humor adalah sesuatu yang bawaan membuat sebagian besar orang enggan melatih kemampuan mereka untuk menciptakan humor.

Baca Juga: Fans Indonesia Disindir Media Vietnam Setelah The Golden Star Lolos Final Piala AFF 2024

Potensi Humor di Dunia Kerja

Meskipun humor jarang digunakan, Aaker dan Bagdonas menekankan bahwa jika diterapkan dengan tepat, humor dapat menjadi kekuatan besar bagi perusahaan. Beberapa manfaatnya meliputi:

  • Meningkatkan Koneksi
    Humor menciptakan rasa keterhubungan antarindividu, baik di antara rekan kerja maupun antara atasan dan bawahan.
  • Memperbaiki Lingkungan Kerja
    Suasana yang lebih santai dan penuh tawa dapat meningkatkan kreativitas, produktivitas, dan kesejahteraan emosional karyawan.
  • Memecahkan Stigma Profesionalisme Kaku
    Humor membantu mengurangi tekanan profesionalisme yang kaku, memungkinkan karyawan untuk lebih autentik dan nyaman.

Baca Juga: Kisah Jay Idzes, Eks Pemain Futsal yang Kini Hadapi Kerasnya Kompetisi Liga Italia

Aaker dan Bagdonas mengajak perusahaan untuk mempromosikan penggunaan humor secara strategis di tempat kerja sebagai cara untuk meningkatkan dinamika tim dan kesejahteraan karyawan. Humor bukan hanya tentang hiburan, tetapi juga alat penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif dan menyenangkan. ***

Tags

Terkini

Sekjen PWI Pusat Zulmansyah Sekedang Wafat

Sabtu, 18 April 2026 | 13:54 WIB