Bahkan, sehari sebelum protesnya kepada Menteri ESDM, ia mencari gas hingga ke beberapa kecamatan, tetapi tetap tidak mendapatkannya.
Karena sangat membutuhkan gas untuk memasak, Effendi merasa harus menyampaikan keluhannya langsung kepada pemerintah.
"Kalau gas tidak ada, walaupun beras ada, tidak bisa masak juga. Mau semurah apa pun, kalau gasnya tidak ada, tetap tidak bisa masak," katanya.
Baca Juga: Sandy Walsh Berpotensi Gabung Yokohama F Marinos, Mengikuti Jejak Pemain Indonesia di Liga Jepang
Harus Fotokopi KTP untuk Bisa Beli Gas Melon
Effendi juga menceritakan pengalaman sulitnya saat berusaha mendapatkan gas di pangkalan resmi karena aturan baru yang berlaku.
"Malam hari, saya mendapat informasi ada stok gas, saya buru-buru mengambil dua tabung," katanya mengingat perjuangannya.
Namun, saat sampai di pangkalan resmi, ia diminta menyerahkan fotokopi KTP sebagai syarat pembelian Gas Melon bersubsidi.
"Kondisi malam hari dan sedang hujan. Dari mana saya harus cari fotokopi KTP? Saya harus mencarinya dulu malam itu," tuturnya.
Setelah mendapat fotokopi KTP, barulah ia bisa membeli gas, yang menurutnya merupakan prosedur rumit untuk kebutuhan sehari-hari.
Berani Protes Langsung ke Menteri ESDM
Pada keesokan harinya, Effendi mendapat informasi bahwa Menteri ESDM akan datang ke Kota Tangerang, dan ia bertekad untuk menemuinya.
"Keesokan harinya, saya ditelepon teman, katanya Pak Menteri datang. Saya jawab, siap bertemu," ujar Effendi mengisahkan niatnya.
Agar bisa mendekati Menteri Bahlil, Effendi sengaja menarik perhatian warga sekitar agar mendapat jalan ke barisan terdepan.
"Saat sampai di lokasi, saya langsung banting motor agar menarik perhatian warga untuk membantu saya mendekat ke menteri," jelasnya.
Ia mengaku penjagaan saat itu sangat ketat, tetapi akhirnya ia berhasil mendekati dan berbicara langsung dengan Menteri ESDM.***