Kisah Inspiratif Mochtar Riady, Pebisnis Visioner dengan Filosofi Hidup Adem Ayem, Kini Bernilai Rp33,2 Triliun!

Syamsu Rizal, Redaksi88
- Jumat, 29 November 2024 | 17:27 WIB
Potret Pendiri Lippo Group, Mochtar Riady.  (YouTube.com / Gilbert Lumoindong)
Potret Pendiri Lippo Group, Mochtar Riady. (YouTube.com / Gilbert Lumoindong)

REDAKSI88.com, Bengkulu Utara– Nama Mochtar Riady identik dengan kisah sukses Lippo Group, konglomerasi besar yang menaungi lebih dari 50 anak perusahaan.

Dari PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) hingga PT Siloam International Hospitals (SILO), jejak bisnisnya melampaui batas geografis Indonesia dan mencakup kawasan Asia Pasifik, termasuk Hong Kong dan Shanghai.

Namun, di balik kemegahan Lippo Group, tersimpan kisah hidup seorang pria sederhana yang menghadapi badai kehidupan dengan filosofi hidup damai nan mendalam.

Inilah kisah inspiratif Mochtar Riady, pendiri Lippo Group, yang kini memasuki usia 96 tahun.

Baca Juga: Bareskrim Tegaskan Fredy Pratama Masih Aktif Kirim Narkoba, Jaringan Internasional dan Perputaran Uang Rp59,2 Triliun Terungkap

Bertahan Hidup di Tengah Kehilangan

Mochtar Riady lahir dari keluarga pedagang batik di Malang, Jawa Timur. Masa kecilnya dipenuhi duka mendalam.

Saat berusia 9 tahun, ia kehilangan sang ibu, diikuti kepergian tiga adiknya hanya dua tahun kemudian. Kehilangan ini menjadi ujian berat bagi seorang anak yang belum memahami arti keteguhan hati.

Pada usia 11 tahun, kehidupannya semakin getir. Ayahnya ditangkap karena dituduh menentang pendudukan Jepang. Mochtar pun harus hidup mandiri, bekerja dan bersekolah sendirian hingga usia 15 tahun.

"Pengalaman masa muda saya sangat berat, tetapi membentuk siapa saya hari ini," ujarnya dalam sebuah wawancara di kanal YouTube Gilbert Lumoindong.

Baca Juga: Ini Daftar Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Serta Hari Besar Nasional dan Internasional Desember 2024

Memulai dari Nol, Jualan Batik

Tahun 1950 menjadi titik balik bagi Mochtar. Sepulang dari perantauan, ia memutuskan mengikuti jejak sang ayah menjadi pedagang batik.

Dengan penuh tekad, ia menjual pakaian batik di kawasan Kayutangan, Malang. "Setiap hari, saya harus menjual delapan batik agar bisa mencukupi kebutuhan hidup," kenangnya.

Halaman:

Editor: Syamsu Rizal

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X