Redaksi88.com– Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat bagi sebuah kepemimpinan, apalagi di wilayah yang memiliki beragam tantangan seperti Kabupaten Bengkulu Utara.
Sejak dilantik pada 2016, duet Bupati Ir H Mian dan Wakil Bupati Arie Septia Adinata telah menorehkan jejak panjang dalam sejarah pemerintahan daerah ini.
Namun, seperti mata uang yang memiliki dua sisi, perjalanan mereka penuh dengan prestasi yang membanggakan, tapi juga dibayangi sejumlah kontroversi.
Selama satu dekade, Mian-Arie berhasil mengarahkan pembangunan yang signifikan di sektor infrastruktur perdesaan.
Baca Juga: Siapa Nasaruddin Umar: Ini Sosok dan Profil Menag Besutan Presiden Prabowo Subianto
Jaringan irigasi dan perbaikan jalan di berbagai desa menjadi sorotan utama kepemimpinan mereka.
Proyek-proyek besar seperti peningkatan akses jalan ke wilayah terpencil serta pembenahan sarana irigasi mendapat pujian, karena berdampak langsung pada produktivitas pertanian dan kesejahteraan masyarakat pedesaan.
Tidak hanya itu, program pemberdayaan masyarakat menjadi ujung tombak dalam meningkatkan kualitas hidup warga Bengkulu Utara.
Mian-Arie dinilai mampu memberikan ruang lebih luas bagi masyarakat untuk menggali potensi mereka.
Dalam beberapa survei lokal, tingkat kepuasan terhadap kebijakan ekonomi berbasis agraris meningkat, terutama di kalangan petani dan pelaku usaha kecil.
Namun, apakah semua prestasi itu cukup untuk menutupi berbagai kontroversi yang muncul sepanjang perjalanan mereka?
Di balik keberhasilan, bayang-bayang kontroversi tak bisa dielakkan. Salah satu proyek yang paling disorot adalah pembangunan irigasi Sengkuang pada 2017. Proyek yang menelan anggaran miliaran rupiah itu dinilai gagal memenuhi ekspektasi.
Artikel Terkait
Argamakmur Ku Sayang
Singkap Peribahasa Melayu Bengkulu
Hajat Daerah dan Politik
ASA yang Dinanti
Pilkada 2024 Bengkulu Utara Demokrasi yang Tersandera
Menghentikan Kekerasan Terhadap Anak: Peran Penting Orang Tua dan Pemerintah