Greenwashing: Mengungkap Bagaimana Perusahaan Memanfaatkan Tren Lingkungan untuk Keuntungan

Ibrahim Shiddiq, Redaksi88
- Selasa, 10 Desember 2024 | 18:26 WIB
Opini - Meila Zaifa Aulia- Greenwashing: Mengungkap Bagaimana Perusahaan Memanfaatkan Tren Lingkungan untuk Keuntungan. (Foto/Meila Zaifa Aulia)
Opini - Meila Zaifa Aulia- Greenwashing: Mengungkap Bagaimana Perusahaan Memanfaatkan Tren Lingkungan untuk Keuntungan. (Foto/Meila Zaifa Aulia)

Dalam beberapa tahun terakhir, kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan semakin meningkat. 

Masyarakat kini lebih memperhatikan dampak produk dan layanan yang mereka pilih terhadap planet ini. 

Salah satu tren yang muncul seiring dengan perhatian terhadap keberlanjutan ini adalah upaya perusahaan untuk menunjukkan bahwa mereka peduli pada lingkungan. 

Baca Juga: Elaborasi: Pendekatan Intelektual untuk Persiapan UAS yang Optimal

Namun, tidak semua klaim tersebut benar-benar mencerminkan tindakan nyata. Fenomena ini dikenal dengan istilah greenwashing

Fenomena greenwashing di Indonesia semakin terlihat seiring dengan tren keberlanjutan yang semakin populer, baik di kalangan produsen maupun konsumen. 

Banyak perusahaan besar yang mulai memanfaatkan tema lingkungan untuk menarik minat pasar yang semakin peduli terhadap isu-isu seperti perubahan iklim, polusi, dan keberlanjutan. 

Hal ini terlihat dalam berbagai industri, mulai dari makanan dan minuman, fashion, kosmetik, hingga produk-produk rumah tangga.

Greenwashing adalah sebuah istilah pada Green Campaign yang dimana perusahaan menyampaikan green brand image dari perusahaan kepada publik.

Dalam bentuk strategi pemasaran di mana perusahaan atau organisasi berpura-pura atau melebih-lebihkan komitmen mereka terhadap keberlanjutan lingkungan, padahal dalam kenyataannya, tindakan mereka tidak sejalan dengan klaim tersebut. 

Baca Juga: Fenomena Idola K-Pop Jadi Wajah Produk Lokal

Greenwashing sering dilakukan perusahaan untuk memanipulasi opini masyarakat yang bertujuan memperoleh nilai tambah, meningkatkan daya saing dan menghasilkan produk yang lebih eco friendly. 

Istilah ini pertama kali dipopulerkan pada tahun 1986 oleh seorang aktivis lingkungan, Jay Westerveld, yang mengkritik hotel-hotel yang menyarankan para tamu untuk mengurangi penggunaan handuk sekali pakai demi menyelamatkan lingkungan, padahal alasan utama adalah untuk mengurangi biaya pencucian. 

Seiring berjalannya waktu, greenwashing semakin berkembang seiring dengan meningkatnya kesadaran terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan.

Halaman:

Editor: Ibrahim Shiddiq

Sumber: Meila Zaifa Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Arah Baru Fundruiser Indonesia

Jumat, 30 Januari 2026 | 06:30 WIB

Ketika Tumbler Menjadi Status Symbol Lingkungan

Sabtu, 13 Desember 2025 | 15:04 WIB

Ketika Ambisi Politik Mengalahkan Rasionalitas Ekonomi

Minggu, 19 Oktober 2025 | 13:57 WIB

Cium Tangan Budaya Feodal

Selasa, 24 Desember 2024 | 14:14 WIB

Wartawan Gaek

Senin, 23 Desember 2024 | 11:58 WIB

Primordialisme

Minggu, 22 Desember 2024 | 12:29 WIB

Batu Bulek Idak Besending

Minggu, 22 Desember 2024 | 12:11 WIB

Dampak Polusi Udara Terhadap Kesehatan

Rabu, 11 Desember 2024 | 23:59 WIB
X