Pendidikan adalah fokus utama dalam kiprah Zita.
Gelar S2 dari University College London dan pengalamannya di bidang Montessori memungkinkannya mendirikan Sekolah Kids Republic serta Yayasan Kebangsaan Lampung, yang keduanya berkomitmen pada pendidikan berbasis nilai-nilai kebangsaan dan kreativitas.
Selain itu, Zita aktif mengadvokasi pendidikan melalui Bunda Pintar Indonesia, sebuah organisasi nirlaba yang membantu perempuan dalam pemberdayaan melalui pendidikan.
Di PAN, Zita memainkan peran kunci sebagai pemimpin perempuan partai, menekankan pentingnya keterlibatan perempuan dalam politik.
Baca Juga: Prabowo Tegaskan ke Para Menteri: Copot Pejabat yang Tak Kerja Keras daripada Bikin Susah
Di DPRD, ia memimpin panitia khusus terkait penanganan banjir, yang menunjukkan perhatiannya pada isu-isu lingkungan dan kesejahteraan masyarakat Jakarta.
Kepemimpinannya dalam organisasi ini mencerminkan komitmennya terhadap transparansi dan akuntabilitas di pemerintahan lokal.
Ujian di Tengah Karir Gemilang
Sebagai figur publik, Zita tidak luput dari sorotan negatif. Ketidakhadirannya dalam sejumlah rapat penting DPRD, terutama yang membahas pertanggungjawaban anggaran DKI, sempat memicu kritik.
Dalam sebuah rapat pada Juli 2024, ia menjadi salah satu pimpinan yang absen, sementara rapat tersebut membahas masalah penting tentang anggaran daerah.
Kritikus mempertanyakan prioritas Zita, meskipun ia memberikan klarifikasi bahwa ketidakhadirannya disebabkan oleh tanggung jawab lain yang tidak kalah penting.
Momen ini memperlihatkan tantangan yang dihadapi seorang politisi muda dalam mengelola persepsi publik.
Sebagai putri dari Zulkifli Hasan, Ketua Umum PAN, Zita kerap kali menghadapi tuduhan nepotisme.
Kritikan ini muncul dari anggapan bahwa keberhasilannya dalam politik tidak terlepas dari pengaruh sang ayah.