Penulis: Benny Benardie/Pemerhati Budaya dan Sejarah Bengkulu
Redaksi88.com, Kalsel- Pekan Olah Raga Wartawan Nasional Indonesia (Porwanas) XIV 2024 Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) usai di gelar di Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).
Banyak pelajaran yang dapat diambil untuk Provinsi Bengkulu sebagai perbandingan, khususnya bidang kepariwisataan dan kebudayaan.
Catatan sepekan di Kota Banjarmasin, Banjar Baru dan Banjar Kalsel ini, tentunya tak bermaksud untuk menggurui, apalagi mengambil peran anggota DPRD Provinsi, kota dan kabupaten ataupun pejabat yang acap kali melakukan kunjungan kerja di luar provinsi.
Ini hanya didasari sekelumit observasi dan wawancara di sela-sela kegiatan tiga tahunan PWI.
Saat mendarat Bandar Udara Internasional Syamsudin Noor Kalsel, nama tokoh lokal itu terpampang besar. Sosok putra daerah yang merupakan Kapten Udara dan namanya disematkan di bandara ini.
Dalam pengamatan satu jam perjalanan menuju pusat Kota Banjarmasin, juga tampak bangunan pemerintah, umum termasuk rumah ibadah. Masjid Hasanudin Madjedi sebagai contoh bangunan masjid megah dan unik.
Nama seorang tokoh Kalsel yang reformis dan namanya disematkan karena jelas jasanya untuk masyarakat Kalimantan Selatan.
Begitulah pemerintah daerah dan masyarakat menginventarisir, mengkaji pahlawan atau tokoh lokal sebagai penghargaan.
Termasuk nama simpang yang tetap dalam penyebutan Masyarakat Melayu setempat, tidak diganti menjadi bundaran atau prapatan. Dapat dipastikan tingkat kesadaran, kepedulian akan kecintaan terhadap daerah sudah terbina.
Makam Keluarga di Halaman Rumah
Cuaca panas Kota Banjarmasin, Kalsel hampir sama dengan cuaca yang ada di Bengkulu kota. Banyak aliran sungai besar membelah kota berlahan gambut ini yang membedakan dengan Bengkulu kota yang terletak di pesisir pantai.
Bila ini terjadi pada abad 18 Masehi, mungkin ada kemiripan kondisi, karena Bengkulu kota dahulu lahan gambut dan di belahi oleh 12 anak sungai kecil. Perjalanan melaju ke Kota Martapura Kabupaten Banjar.
Saat melintas pinggiran Sungai Tabuk dan masuk di Desa Martapura Lama, sempat tercengang melihat rumah masyarakat lokal setempat. Dimana di setiap halaman rumah penduduk, selalu terdapat makam keluarga.
Se-Kecamatan Martapura Barat, di desa tua itu berlaku tradisi memakamkan anggota keluarga di halaman depan rumah mereka. Tradisi yang berlangsung lama, sejak era nenek moyang mereka hingga kini. Makam tersusun di depan beranda rumah.
“Salah satu alasannya, agar anak keturunan tidak menjual rumah tua, dan anak cucu mereka dapat menetap di rumah itu’, jelas Rangga (56), penduduk setempat yang kesehariannya mencari ikan di sungai.
Uniknya lagi, ukuran kuburan itu tampak lebih pendek dari umumnya, sekitar satu meter saja. Dari beranda rumah mereka mengamati lalu lalang pengguna jalan raya di sela makam keluarga mereka.
Dari Martapura Lama ini kita dapat menarik kesimpulan, kita tetap dan tidak merusak budaya dan tradisi yang lama. Bila ingin kemajuan, dapat dilakukan di areal baru. Keunikan daerah menjadi aset wisata dan kemajuan bagi daerah.
Giatkan Budaya, Raup Rupiah
Dahulu, masyarakat yang tinggal di pinggiran sungai, berumah di atas air. Aktivitas perniagaan pun dilakukan di aliran sungai menggunakan jukung (Sampan atau perahu) dalam Bahasa Banjar.
Kehidupan masyarakat di aliran Muara Sungai Kuin yang disebut Pasar Terapung Sungai Barito Banjarmasin Kalsel diunikan kembali Pemerintah Daerah Kalimantan Selatan. Aktivitas perniagaan tersebut diaktifkan kembali.
Aktivitas berniaga hasil bumi, makanan tradisional hingga kerajinan tangan, membangkitkan usaha kecil dan menengah (UKM) masyarakat lokal. Ini menjadi obyek wisata bahari eksotis. Perniagaan tak berlangsung lama. Dimulai sekira pukul 06.00 WIT hingga 10.00 WIT.
Para wisatawan dapat menikmati pemandangan aliran Sungai Barito, dengan menggunakan Perahu Kelotok (Kapal ikan kecil) berjasa Rp 35 ribu saja, wisatawan dapat mengunggah adrenalin. Konsep tersebut tentunya akan memakmurkan masyarakat.
Penerimaan devisa akan meningkat dan menimbulkan peluang kerja bagi masyarakat, akan berdampak pada stabilitas perekonomian Provinsi Bengkulu.
Pertanyaannya, kenapa Provinsi Bengkulu yang juga punya sungai di kota dan kabupaten tidak membuat konsep wisata bahari tersebut? Kapal ikan seperti Perahu Kelotok itu banyak terdapat seperti di Pelabuhan Pulau Baai (Polo Bay) Kota Bengkulu atau dermaga di kabupaten di Provinsi Bengkulu.
Lantai kapal hanya dimodifikasi saja ala ‘lesehan’, agar wisatawan dapat menikmati kebaharian Negeri Bengkulu Raya ini santai, nyaman dan berkesan. Bila pemerintah daerah punya konsep kepariwisataan seperti ini, tentunya membangkitkan budaya wisata kemaritiman yang dapat meraup cuan-cuan bagi kepentingan daerah.
Provinsi Bengkulu banyak punya hasil bumi, sumber daya alam dan flora dan fauna, tak kalah kaya dengan Kalimantan Selatan. Tinggal lagi bagaimana “Budaya darat darat tetap di galakan, budaya air kita berdayakan dan jangan dilupakan”.
Wisata Desa
Bila Kalimantan Selatan punya desa di bawah kaki bukit, dipinggiran aliran air, apa bedanya dengan yang ada di Provinsi Bengkulu. Sebagai daerah pesisir pantai bagian barat Pulau Sumatera ini punya apa yang provinsi lain ada, bahkan Samudera Hindia membentang sepanjang mata memandang.
Sebagai pembelajaran, perbandingan Provinsi Bengkulu, maka Provinsi Kalimantan Selatan dapat dijadikan contoh khusus untuk desa wisata. Obyek wisata bernilai edukasi dan ekonomis, meskipun jarak tempuh menuju desa berkisaran 5 jam perjalanan dari titik nol Kota Banjarmasin, Kalsel.