destinasi

Mbok Yem dan Kisah Legendaris Warung ‘Mahal’ di Puncak Gunung Lawu

Kamis, 24 April 2025 | 14:00 WIB
Nasib Warung Setelah Mbok Yem Meninggal Dunia. (x.com/irfansugiharto_)

Baca Juga: CITCOM CONNEXT 2025: Komdigi, Komunitas, dan Dunia Usaha Sepakat Dorong Adopsi AI

Kegiatan mendaki gunung awalnya dilakukan untuk mencari bahan jamu dan rempah-rempah dari hutan Lawu. 

Dari aktivitas itulah, perlahan-lahan berdirilah sebuah pondok kecil yang kemudian berkembang menjadi warung sederhana.

Warung tersebut menjadi semacam “rumah kedua” bagi para pendaki. Di sana, mereka bisa menemukan nasi hangat, teh manis, mie instan, hingga sapaan dan obrolan hangat khas Mbok Yem, semua terasa begitu berarti di tengah dinginnya suhu Lawu. Letaknya hanya sekitar 115 meter di bawah puncak tertinggi Gunung Lawu.

Tapi warung Mbok Yem bukan sekadar tempat berjualan. Ia menjadi ruang persinggahan penuh makna, dengan sambutan hangat dari sosok bersahaja yang menyatu dengan alam dan begitu akrab dengan para tamunya. 

Tak ada pendaki yang pulang dari puncak Gunung Lawu tanpa cerita tentang Mbok Yem, atau tanpa mencicipi teh hangatnya yang terasa begitu istimewa di tengah kabut dingin.

Bagi banyak pendaki, Mbok Yem bukan sekadar penjual makanan. Ia adalah simbol semangat, kehangatan, dan dedikasi. 

Baca Juga: Harga Emas Hari Ini Terus Melambung! Ini Detail Harganya Saat Ini

Meskipun tinggal di puncak gunung dengan segala keterbatasan, kehadirannya memberi makna lebih dalam pada perjalanan fisik dan batin para pendaki.

Di saat banyak orang tua memilih hidup nyaman bersama keluarga di rumah saat memasuki usia senja, Mbok Yem justru memilih tinggal di ketinggian. 

Ia menyatu dengan alam, menyambut tamu dari berbagai penjuru negeri, dan hanya pulang sesekali, biasanya saat Idul Fitri.

Kini, setelah puluhan tahun mengabdi di atas awan, Mbok Yem akhirnya berpulang. Di akhir hidupnya, ia memilih kembali ke rumah, menghabiskan sisa waktu bersama keluarga, sebelum menutup mata untuk selamanya.***

Halaman:

Tags

Terkini