REDAKSI88.com - Kebijakan tarif impor terbaru Presiden Donald Trump memicu kritikan dari para ekonom yang menilai langkah ini berpotensi memicu inflasi dan memberatkan ekonomi masyarakat AS.
Menurut laporan Reuters, analis memprediksi tarif ini dapat mendorong inflasi, meningkatkan risiko resesi, serta menambah beban pengeluaran rumah tangga AS hingga ribuan dolar.
Padahal, Trump tengah berkampanye dengan janji utama menekan biaya hidup.
Dr. Kishore Kulkarni, pakar ekonomi dari MSU Denver, memperingatkan bahwa efek kenaikan tarif akan segera terlihat.
Baca Juga: Viral Pertemuan Prabowo dengan Megawati: Silaturahmi Biasa atau Pembahasan Strategis?
“Tidak diragukan lagi, harga mobil pekan depan akan lebih mahal ketimbang hari ini,” ungkap Kulkarni, seperti dikutip CBS News, Selasa (8/4/2025).
Kulkarni menjelaskan, tarif ini tidak hanya memengaruhi mobil impor, tetapi juga kendaraan produksi lokal.
Pasalnya, industri otomotif bersifat kompleks dan tetap bergantung pada komponen dari berbagai negara.
“Untuk banyak mobil, perakitan ada di suatu tempat, mesinnya dari suatu tempat, suku cadang bodinya ada di suatu tempat,” tambahnya.
Baca Juga: Kebijakan Tarif Resiprokal Trump Resmi Berlaku, Impor China Dikenakan Pajak 104 persen
“Jadi jelas, mobil adalah komoditas yang sangat kompleks yang membutuhkan banyak barang impor dan input impor, dan oleh karena itu, perusahaan mobil akan menemukan cara untuk beradaptasi dengan semua ini,” jelas Kulkarni.
Ia menambahkan, bahkan Tesla yang kerap dianggap sebagai produk asli Amerika pun masih mengimpor suku cadang dari luar negeri.
Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan tarif baru bisa berbalik merugikan, tidak hanya bagi pesaing asing tetapi juga produsen domestik.***