Menilik Poin-Poin Pidato Prabowo di Sidang Umum PBB, dari Kenangan Penjajahan hingga Dukungan ke Palestina

Ibrahim Shiddiq, Redaksi88
- Rabu, 24 September 2025 | 13:47 WIB
Momen Presiden RI Prabowo Subianto berpidato di sidang umum PBB ke-80.  (Instagram.com/@prabowo)
Momen Presiden RI Prabowo Subianto berpidato di sidang umum PBB ke-80. (Instagram.com/@prabowo)

Redaksi88.com – Presiden RI Prabowo Subianto tampil sebagai pembicara dalam Sidang Umum ke-80 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat pada Selasa, 23 September 2025.

Dalam pidatonya, Prabowo mengangkat berbagai isu penting, mulai dari perdamaian dunia, penderitaan rakyat Palestina, hingga kesiapan Indonesia berkontribusi menjaga keamanan global.

Lantas, apa saja pokok-pokok pembicaraan mantan Menteri Pertahanan itu di hadapan forum internasional? Berikut ulasan selengkapnya.

Baca Juga: Hari Tani Nasional ke-65: Serikat Petani Indonesia Gelar Aksi Damai di Monas, Desak Reforma Agraria Sejati

Sentil Isu Rasisme dan Sejarah Penjajahan

Prabowo membuka pidatonya dengan menyinggung tantangan besar dunia yang masih dibayangi rasisme dan kebencian. 

Ia kemudian menuturkan pengalaman pahit bangsa Indonesia selama era kolonialisme, ketika diperlakukan lebih hina dari hewan.

"Selama berabad-abad, bangsa Indonesia hidup di bawah penjajahan, penindasan, dan perbudakan. Kami diperlakukan lebih hina daripada anjing di Tanah Air kami sendiri," kata Prabowo.

Baca Juga: Awal Mula 352 Siswa Keracunan Massal yang Diduga Imbas Menu MBG Tak Layak Konsumsi di KBB, Lonjakan Korban dalam Hitungan Jam

Menurutnya, perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan, kelaparan, penyakit, dan kemiskinan bukanlah hal mudah. 

Namun, keberadaan PBB diakui turut membantu negara-negara yang mengalami penderitaan.

"Dalam perjuangan kami merebut kemerdekaan, dalam perjuangan kami melawan kelaparan, penyakit, dan kemiskinan, Perserikatan Bangsa-Bangsa berdiri bersama Indonesia dan memberikan bantuan yang sangat penting," lanjutnya.

Tolak Doktrin Si Kuat dan Si Lemah

Di hadapan forum dunia itu, Prabowo juga menegaskan penolakannya terhadap doktrin ‘si kuat dan si lemah’ yang kerap memicu ketidakadilan global.

Baca Juga: Mahfud MD Bersedia Bergabung dengan Komite Reformasi Polri, Istana Respons Positif

"Yang kuat melakukan apa yang mereka bisa. Yang lemah menanggung apa yang harus mereka tanggung. Kita harus menolak doktrin ini. Perserikatan Bangsa-Bangsa ada untuk menolak doktrin ini," ucapnya.

Halaman:

Editor: Ibrahim Shiddiq

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X