"Ini bukan hanya soal politik, tetapi tentang keberlanjutan bangsa kami," ucap Maipi Clarke dalam konferensi pers usai sidang.
Aksi Maipi Clarke dan tarian haka di parlemen menjadi viral di media sosial, menuai dukungan dari berbagai penjuru dunia.
Banyak yang memuji keberanian para anggota Te Pāti Māori dalam mempertahankan hak-hak rakyatnya di tengah tekanan politik.
Baca Juga: Momen Keakraban Prabowo Bersama Pemimpin Dunia di APEC 2024
Namun, pihak pendukung RUU, termasuk Partai Libertarian Act, menyebut revisi Perjanjian Waitangi diperlukan untuk menciptakan keadilan bagi semua warga Selandia Baru.
Mereka menilai perjanjian yang ada terlalu bias terhadap suku Maori.
Debat tentang RUU ini mencerminkan pertempuran lebih luas antara keinginan mempertahankan tradisi dan tuntutan modernitas.
Perjuangan Maipi Clarke dan Te Pāti Māori menjadi simbol pertahanan budaya dan identitas di era globalisasi yang sering mengabaikan hak-hak komunitas adat.
Baca Juga: AI sebagai Sahabat Belajar: Menyongsong Era Mahasiswa 5.0
Dengan sorotan internasional yang terus meningkat, langkah selanjutnya dari parlemen Selandia Baru akan menjadi penentu apakah suara rakyat Maori tetap dihormati atau diabaikan.
Satu hal yang pasti, tarian haka di parlemen telah menyampaikan pesan kuat, keberanian dan warisan Maori tak akan pernah padam yang menuai beragam komentar netizen di Media Sosial atas keberanian Maipi Clarke.***