REDAKSI88.com– Pendiri Microsoft, Bill Gates, kembali mengingatkan dunia tentang dampak perubahan iklim yang semakin nyata.
Dalam blog pribadinya pada Februari 2025, Gates menyoroti emisi gas rumah kaca, peran industri lemak hewani dan minyak sawit, serta menyebut Indonesia sebagai salah satu negara yang terdampak parah.
Gates mengungkapkan bahwa setiap tahun, aktivitas manusia di Bumi menghasilkan 51 miliar ton gas rumah kaca, dengan 7% di antaranya berasal dari produksi lemak hewani dan nabati.
Baca Juga: Desa Didorong Jadi Pemasok Program Makan Bergizi Gratis, Kesejahteraan Diprediksi Meningkat
"Untuk memerangi perubahan iklim, kita harus mengubah angka itu menjadi nol," tulisnya.
Namun, ia mengakui bahwa menghilangkan konsumsi lemak hewani sepenuhnya bukan solusi realistis, karena manusia masih membutuhkan nutrisi dari lemak tersebut.
Sebagai alternatif, ia menyoroti inovasi dari startup Savor, yang mengembangkan teknologi memanen lemak tanpa emisi berbahaya, tanpa menyiksa hewan, dan tanpa menciptakan bahan kimia berbahaya.
Baca Juga: Pejabat Imigrasi Bandara Soetta Dicopot Imbas 44 Kasus Pemerasan
Dengan memanfaatkan karbon dioksida dari udara dan hidrogen dari air, Savor menghasilkan lemak melalui pemanasan dan oksidasi, menciptakan molekul serupa dengan lemak dalam susu, keju, daging sapi, dan minyak nabati.
Selain emisi dari lemak hewani, Gates menyoroti industri minyak sawit sebagai kontributor besar perubahan iklim.
Minyak sawit, yang merupakan lemak nabati paling banyak dikonsumsi di dunia, ditemukan dalam berbagai produk seperti, jenis makanan kue, mie instan, krim kopi, makanan beku.
Baca Juga: Tukin Dosen ASN 2020 dan 2024 Tak Cair, Ini Penjelasan Pemerintah
Kemudian, produk rumah tangga yakni sabun mandi, deterjen, pasta gigi, deodoran serta biofuel berupa bahan bakar diesel ramah lingkungan.
Namun, masalah utama terletak pada proses produksinya yang menyebabkan deforestasi besar-besaran di wilayah ekuator, termasuk Indonesia dan Malaysia.