Ada pula ulama menafsirkan, bilamana Allah mengampuni seorang hamba, ia pun dapat memberi syafa'at untuk teman-temannya.
Oleh sebab itu segolongan para Salaf memujikan bersahabat, ramah dan bergaul, dan tidak menganjurkan mengasingkan diri dan hidup sendirian. Setiap manfa'at ini memerlukan beberapa persyaratan mutlak, yang akan kami perinci.
Baca Juga: Prabowo Kerahkan Empat Menteri Sekaligus untuk Selamatkan Sritex, Serikat Buruh Apresiasi
Persahabatan pun memiliki beberapa syarat mutlak. Dalam memilih teman, hendaknya kita mencari seseorang yang memiliki lima sifat utama: 1) berakal, 2) berakhlak baik, 3) tidak fasik, 4) bukan ahli bid'ah, dan 5) tidak terlalu cinta dunia.
Akal yang baik adalah syarat utama, sebab bersahabat dengan orang yang kurang akal justru akan menimbulkan masalah dan perselisihan, meskipun telah lama bersahabat.
Perihal akal, maka memang inilah yang merupakan kapital pokok dalam kehidupan, sebab justru inilah yang pertama kali wajib diperhatikan untuk memilih sahabat.
Bukankah sama sekali tidak ada gunanya bersahabat dengan seorang yang ahmak (kurang akal), sebab akibatnya hanyalah akan membawa perasaan yang tidak enak dan perselisihan pendapat semata-mata, sekalipun persahabatan itu telah berjalan lama sekali.
Ada seorang yang berkata bahwa tidak bersahabat dengan seseorang yang kurang akalnya itu adalah sebagai suatu pengorbanan kepada Allah Ta'ala.
Perihal bagusnya budi pekerti, maka ini pun harus pula menjadikan perhatiannya, sebab barangsiapa yang jiwanya dapat dikalahkan oleh nafsu suka marah, nafsu gemar kesyahwatan, kikir, pengecut atau penakut, apalagi kalau hawa nafsunya yang buruk-buruk itu senantiasa diperturutkan, maka sama sekali tidak ada faedahnya lah bersahabat dengan manusia yang sedemikian tadi.
Perihal orang fasik yang selalu saja terus-menerus dalam kefasikannya, maka itupun tidak berguna untuk dijadikan sahabat, bahkan menyaksikannya saja dapat menimbulkan rasa mempermudahkan urusan kemaksiatan dan dapat melenyapkan jiwa yang tidak mencocoki dilakukannya kemaksiatan tadi.
Lagi pula seseorang yang tidak ada rasa takutnya kepada Allah swt. Itu tidak mungkin dapat dipercaya bahwa ia tidak akan melakukan suatu penipuan atau kecurangan pada sahabatnya, juga tidak dapat diandalkan persahabatannya, malahan sebaliknya yakni ia dapat berubah-ubah pendiriannya karena berubah pula tujuan dan kehendaknya sebab hanya mengikat pada kepentingan sendiri.
Dalam hal ini Allah Ta'ala telah mengingatkan kepada kita dengan firman-Nya:.
"Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas." (Al Kahfi: 28).
Allah Ta'ala berfirman: .
"Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi." (An Najm: 29).
Artikel Terkait
Mengingat Allah di Setiap Suasana: Ini Tiga Tingkatan Pengabulan Doa
Tetap Tegar di Tengah Masa Sulit: Pelajaran Hidup dan Motivasi untuk Bertahan
Simak! Bahaya Menghina Teman dengan Sebutan Binatang dalam Islam
Menepis Keraguan Menikah, Proses Ibadah Suci yang Penuh Makna
Kebohongan Kasih Sayang Seorang Ibu, Hargai Perannya dalam Kehidupan