Allah Ta'ala berfirman:
"Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi binasa."(Thaha: 16).
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku". (Luqman: 15).
Isi yang tersirat dan yang dapat dipahami dari ayat-ayat diatas merupakan larangan atau ancaman untuk menjadi orang fasik atau bersahabat dengannya.
Alqamah pernah memberikan wasiat kepada putranya dan ia berkata,
"Hai anakku, jikalau engkau merasa perlu untuk bersahabat dengan seseorang, maka pilihlah yang mempunyai sifat-sifat ini, yaitu jikalau engkau melayaninya, ia suka melindungimu, jikalau engkau sahabati, ia akan merupakan hiasan bagi dirimu dan jikalau engkau dalam keadaan kekurangan nafkah, ia gemar pula mencukupi kebutuhanmu.
Pilihlah seorang sahabat yang apabila engkau mengulurkan tanganmu untuk memberikan jasa baik atau bantuanmu, lalu ia suka menerima dengan rasa terharu, jikalau ia melihat kebagusan yang timbul dari diri- mu, ia suka menghitung-hitungnya dan dianggapnya sangat berguna, sedang jikalau ia mengetahui keburukan dari dirimu lalu ia suka menutup-nutupinya.
Pilihlah sahabat yang jikalau engkau meminta sesuatu dari pada- nya, pasti ia memberi, jikalau engkau diam, ia mulai menyapamu dahulu dan jikalau ada suatu kesukaran dan kesedihan yang menimpa dirimu, ia suka membantu dan meringankan serta menghiburmu.
Pilihlah sahabat yang jikalau engkau berkata-kata, ia suka membenarkan ucapanmu dan bukan selalu mempercayai saja, jikalau engkau mengusahakan sesuatu persoalan yang berat, ia suka mengawanimu mengusahakannya, sedang jikalau engkau berselisih dengannya, ia suka sekali mengalah untuk kepentinganmu.
Sayyidina Ali ra. berkata,
"Saudaramu yang sebenar-benarnya ialah orang yang ada disampingmu. Ia suka menerjunkan dirinya sendiri dalam bahaya demi untuk kemanfaatan mu. Itulah sahabatmu yang jikalau engkau dalam keadaan bimbang, ia selalu mengatakan yang terang- terangan padamu. Ia suka berkurban mencurahkan tenaga dan kekuatannya untuk dapat berkumpul denganmu."
Abu Sulaiman Darami rahimahullah berkata,
"Jangan sekali-kali engkau bersahabat melainkan salah satu dari dua macam orang ini. Pertama ialah orang yang dapat engkau ajak bersahabat dalam urusan duniamu dengan jujur dan kedua orang yang dengan mengawininya itu engkau dapat menambah bermanfaat dirimu untuk urusan akhiratmu. Jikalau engkau suka bersahabat dengan orang selain dua orang semacam diatas itu, maka pastilah itu merupakan kebenggalan dan kebodohanmu yang luar biasa besarnya."
Demikianlah, memilih sahabat sejati memerlukan pertimbangan matang. Sahabat yang tepat bukan hanya memperindah kehidupan kita di dunia, tetapi juga membawa manfaat besar dalam perjalanan menuju akhirat. ***
Artikel Terkait
Mengingat Allah di Setiap Suasana: Ini Tiga Tingkatan Pengabulan Doa
Tetap Tegar di Tengah Masa Sulit: Pelajaran Hidup dan Motivasi untuk Bertahan
Simak! Bahaya Menghina Teman dengan Sebutan Binatang dalam Islam
Menepis Keraguan Menikah, Proses Ibadah Suci yang Penuh Makna
Kebohongan Kasih Sayang Seorang Ibu, Hargai Perannya dalam Kehidupan