Peneliti ITS Kembangkan Benwit: Bensin Berbahan Sawit untuk Kemandirian Energi

Syamsu Rizal, Redaksi88
- Jumat, 10 April 2026 | 11:05 WIB
Ilustrasi - Peneliti dari Departemen Teknik Material dan Metalurgi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. (pixabay/erwinbosman)
Ilustrasi - Peneliti dari Departemen Teknik Material dan Metalurgi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. (pixabay/erwinbosman)

REDAKSI88.com – Peneliti dari Departemen Teknik Material dan Metalurgi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berhasil mengembangkan inovasi bahan bakar minyak (BBM) alternatif bernama “Benwit”.

Bensin berbahan dasar sawit ini diproyeksikan menjadi solusi energi rendah emisi di tengah fluktuasi harga minyak mentah dunia.

Rektor ITS, Prof. Bambang Pramujati, menyatakan bahwa inovasi ini merupakan langkah strategis untuk mendukung transformasi energi nasional dari fosil ke energi baru terbarukan (EBT).

Baca Juga: Kementerian HAM dan ICCN Jajaki Kolaborasi Global Perkuat Hak Dasar di Kota Kreatif

"Ini kesempatan bagi pemerintah untuk mengembangkan sumber energi alternatif di tengah isu krisis bahan bakar akibat konflik di wilayah Timur Tengah saat ini,” ujar Prof. Bambang, Kamis (9/4/2026).

Ketua tim peneliti, Hosta Ardhyananta, menjelaskan bahwa pengembangan “Benwit” menggunakan metode catalytic cracking untuk memecah molekul Crude Palm Oil (CPO) menjadi hidrokarbon ringan.

Proses ini memanfaatkan katalis berbasis alumina (γ-Al₂O₃) yang berfungsi sebagai "gunting molekuler" untuk memecah trigliserida dalam minyak sawit.

Baca Juga: Terkait Viralnya Ribuan Motor Trail-Listrik Berlogo BGN di Media Sosial, Kepala BGN Beri Penjelasan Begini

Melalui pendekatan tersebut, tim peneliti berhasil meningkatkan efisiensi reaksi dengan menurunkan suhu operasi hingga 380°C dan meningkatkan rendemen biogasoline hingga mencapai 83%.

Produk yang dihasilkan didominasi oleh hidrokarbon rantai pendek rentang C5 hingga C11, yang merupakan komponen utama bensin komersial.

Hosta menambahkan, inovasi ini turut menerapkan prinsip zero emission. Residu cair dari proses produksi tidak dibuang, melainkan dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar kompor karena karakteristiknya yang menyerupai minyak jelantah.

Baca Juga: Zaskia Adya Mecca Keluhkan Ketidakjelasan Prosedur Sidang di Pengadilan Militer Jakarta

Saat ini, teknologi "Benwit" telah diimplementasikan secara terbatas pada mesin-mesin pertanian untuk melindungi petani dari dampak kenaikan harga BBM.

“Melalui biogasoline sawit ini, para petani tidak lagi bergantung sepenuhnya pada bensin dari minyak bumi yang harganya fluktuatif," ungkap Hosta.

Halaman:

Editor: Syamsu Rizal

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X