REDAKSI88.com - Presiden RI Prabowo Subianto secara terbuka dan tanpa sensor menjawab berbagai pertanyaan kritis terkait fenomena demonstrasi belakangan ini serta urgensi revisi Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (UU TNI).
Dialog tersebut berlangsung dalam suasana santai namun penuh substansi di kediaman pribadinya yang asri di kawasan Hambalang, Bogor, Jawa Barat, bersama tujuh jurnalis terkemuka dari berbagai media massa nasional Pada Minggu (6/4/2025).
Menanggapi pertanyaan Pemimpin Redaksi IDN Times Uni Lubis, Presiden Prabowo dengan tegas menyatakan bahwa demonstrasi merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan demokrasi yang dijamin konstitusi.
"Kita sudah sepakat berdemokrasi. Berdemo itu dijamin oleh UUD. Hak berkumpul, hak berserikat, dan sebagainya. Jadi menurut saya itu biasa saja," ujar Prabowo.
Baca Juga: Prabowo Targetkan Penurunan Harga Telur dan Daging dalam Setahun untuk Penuhi Gizi Anak Indonesia
Namun, ia menekankan bahwa kebebasan berpendapat harus diimbangi dengan tanggung jawab.
"Kalau ada tindakan abusif dari aparat, ya kita harus investigasi dan proses secara hukum. Tapi kita juga harus jujur mengakui bahwa tidak semua demonstrasi benar-benar murni," tambahnya.
Waspadai Praktik Politik Transaksional dan Provokasi
Prabowo kemudian mengajak semua pihak untuk melihat fenomena demonstrasi secara objektif.
"Coba perhatikan dengan jernih. Apakah demo-demo itu benar-benar lahir dari kesadaran rakyat, atau ada yang membayar? Kita bukan anak kecil, Mbak Uni. Harus objektif," ucapnya dengan nada prihatin.
Ia memberi contoh konkret, "Ada demo yang menolak efisiensi, demo yang bilang dana pendidikan akan dikurangi. Tapi apakah benar demikian? Kita harus kritis," jelasnya.
Presiden juga mengingatkan bahaya aksi yang berujung anarki. "Kita menghormati hak berdemo asal dilakukan dengan damai. Tapi kalau sudah bakar-bakar ban, blokir jalan, itu bukan demo damai lagi," tegasnya.
Peringatan Keras Soal Intervensi Asing dan Peran LSM
Dengan serius, Prabowo mengungkapkan kekhawatirannya akan potensi adu domba oleh pihak asing.
"Kita harus waspada, apakah ada kelompok atau kekuatan asing yang ingin memecah belah kita," ujarnya.