Redaksi88.com – Di balik terang listrik yang setiap hari menerangi rumah dan aktivitas masyarakat, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara masih menimbulkan beban besar biaya kesehatan dan lingkungan.
Sebuah studi terbaru mengungkap, emisi PLTU di Indonesia berkontribusi pada ribuan kasus kematian dini setiap tahun serta kerugian ekonomi hingga miliaran dolar AS.
Titik panas (hotspot) polusi tercatat berada di wilayah Banten–Jakarta, Sumatera Barat, dan Aceh.
Baca Juga: Mendalami Kronologi Tragedi KDRT di Cakung: Korban SN Meninggal Dunia Usai Alami Luka Bakar Parah
Lembaga riset energi dan kualitas udara, Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), memperkirakan kompleks PLTU Suralaya di Banten yang menjadi pemasok utama listrik untuk kawasan Jabodetabek menyebabkan sekitar 1.470 kematian dini per tahun.
Beban biaya kesehatan yang ditimbulkan ditaksir mencapai US$ 1,04 miliar atau setara Rp15,8 triliun.
Dalam temuan skenario tertinggit mereka, angka tersebut bahkan bisa meningkat hingga 1.640 kematian setiap tahun.
“Membersihkan satu sumber emisi besar akan menghemat biaya kesehatan yang sangat signifikan,” kata peneliti CREA dalam laporan bersama Greenpeace pada 2023.
Baca Juga: Anggaran PUPR 2020 Bengkulu Utara Disorot, Eks Kadis Diduga Bermain di Balik Perjalanan Dinas
7.000 Kematian Dini per Tahun
Pada level nasional, estimasi beban kesehatan akibat PLTU juga konsisten tinggi.
Studi Greenpeace Harvard pada 2015 memperkirakan sekitar 6.500–7.100 kematian dini per tahun dari PLTU yang saat itu beroperasi, angka yang akan meningkat bila kapasitas bertambah.
Sementara analisis CREA untuk tahun-tahun berikutnya menunjukkan proyeksi lebih dari 10.000 kematian dini dan kerugian kesehatan di kisaran miliaran dolar per tahun, seiring ekspansi PLTU, termasuk untuk kebutuhan industri.
Di wilayah Jakarta–Banten, pemerintah bahkan mempertimbangkan menutup sebagian unit Suralaya (2 GW) guna menekan polusi yang menyeberang ke ibu kota.