Redaksi88.com – Kolaborasi antara Pertamina dan sejumlah SPBU swasta dalam pemenuhan stok bahan bakar minyak (BBM) tampaknya hingga kini belum bisa direalisasikan.
Kolaborasi dengan Pertamina dengan membeli base fuel dari perusahaan negara itu menjadi jalan keluar bagi SPBU swasta yang sudah habis jatah impornya.
Diketahui PT VIVO Energy Indonesia dan APR (joint venture BP dan AKR) memutuskan batal membeli BBM dari Pertamina.
Baca Juga: Aduan BGN dan BPOM ke DPR: Klaim Biang Keladi Keracunan MBG Berasal dari SPPG Tak Patuh SOP
Padahal, sebelumnya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sempat menyampaikan bahwa pemerintah dan SPBU swasta telah mencapai kesepakatan dengan SPBU swasta.
Kandungan Etanol Jadi Alasan VIVO dan APR Mundur
Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Achmad Muchtasyar, mengungkapkan alasan di balik mundurnya VIVO dan APR dari kesepakatan sebelumnya.
“VIVO membatalkan untuk melanjutkan, akhirnya tidak disepakati lagi. Lalu tinggal APR. APR akhirnya tidak juga. Jadi, tidak ada semua,” ujar Achmad Muchtasyar dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI, Rabu, 1 Oktober 2025.
Sebelumnya, VIVO telah menyepakati pembelian 40 ribu barel base fuel dari Pertamina.
Achmad menambahkan bahwa kandungan etanol sebesar 3,5 persen dalam produk tersebut membuat mereka mengurungkan niat.
Padahal, kata Achmad, kandungan tersebut sebenarnya masih berada dalam batas aman base fuel.
“Kontennya itu ada kandungan etanol, di mana secara regulasi itu diperkenankan etanol itu sampai jumlah tertentu,” jelasnya.
“Kalau tidak salah sampai 20 persen etanol, sedangkan ada etanol 3,5 persen ini yang membuat kondisi teman-teman SPBU swasta tidak melanjutkan pembelian karena ada konten etanol tersebut,” tambahnya.
Sementara itu, Shell Indonesia batal membeli BBM dari Pertamina karena memiliki pertimbangan internal tersendiri.