Pada era 1960 hingga 1980, Indonesia merupakan salah satu produsen singkong terbesar di dunia. Namun, saat ini Indonesia telah disusul oleh negara-negara lain, seperti Thailand dan Vietnam.
Oleh karena itu, revitalisasi komoditas pangan lokal seperti singkong menjadi langkah penting untuk mengembalikan kejayaan Indonesia di sektor ini.
Strategi dan Intervensi yang Diperlukan
Untuk mewujudkan swasembada pangan, Subagio memberikan beberapa masukan kepada pemerintahan Prabowo.
Salah satu poin penting adalah intervensi pemerintah dalam bentuk subsidi, baik pada aspek input maupun output.
Dengan subsidi ini, para petani akan terlindungi dari risiko ekonomi, baik dalam hal biaya produksi maupun harga jual hasil pertanian mereka.
Hal ini juga akan mendorong terciptanya industri pengolahan yang menguntungkan bagi semua pihak, dari petani hingga konsumen akhir.
Baca Juga: Momen Haru Jokowi Beri Tepuk Tangan untuk Prabowo di Sidang Pelantikan Presiden 2024-2029
Di sisi lain, Subagio juga menekankan bahwa komoditas seperti singkong tidak membutuhkan investasi besar dalam hal infrastruktur irigasi seperti halnya padi.
Dengan demikian, pengembangan komoditas pangan lokal seperti singkong bisa menjadi solusi yang efisien dan hemat biaya untuk pemerintah.
Kendati demikian, langkah Prabowo Subianto untuk mencapai swasembada pangan dalam lima tahun ke depan adalah visi ambisius yang didukung oleh para ahli seperti Prof. Achmad Subagio.
Namun, untuk mewujudkannya, diperlukan perubahan paradigma dalam kebijakan pangan nasional, pengembangan potensi lokal, dan intervensi pemerintah yang tepat.
Dengan pendekatan yang holistik dan terencana, Indonesia memiliki peluang besar untuk kembali menjadi negara yang mandiri dalam hal pangan, sekaligus memperkuat ketahanan nasional di masa mendatang.***