Strategi Mewujudkan Swasembada Pangan di Era Prabowo Subianto: Perspektif Guru Besar Universitas Jember

Syamsu Rizal, Redaksi88
- Senin, 21 Oktober 2024 | 09:51 WIB
Strategi Mewujudkan Swasembada Pangan di Era Prabowo Subianto: Perspektif Guru Besar Universitas Jember.  (Foto/Istimewa)
Strategi Mewujudkan Swasembada Pangan di Era Prabowo Subianto: Perspektif Guru Besar Universitas Jember. (Foto/Istimewa)

Redaksi88.com - Prabowo Subianto, dalam pidatonya usai dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia periode 2024-2029, menargetkan Indonesia mencapai swasembada pangan dalam empat hingga lima tahun ke depan.

Pernyataan ini disampaikan dalam Sidang MPR RI pada 20 Oktober 2024. Prabowo menekankan pentingnya ketahanan pangan sebagai salah satu fondasi ketahanan nasional yang kuat.

Menanggapi visi Prabowo seperti dikutip dari JatimNetmork.com, Minggu (20/10). Prof. Achmad Subagio, PhD, Guru Besar Universitas Jember, menyambut baik target tersebut.

Menurutnya, swasembada pangan merupakan cita-cita mulia yang sangat relevan dengan kebutuhan nasional.

Baca Juga: Prabowo Suarakan Dukungan untuk Kemerdekaan Palestina saat Pidato Pertama sebagai Presiden

Namun, ia juga menekankan bahwa sistem pangan Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar untuk mewujudkan impian tersebut.

Selama ini, kebijakan pangan nasional cenderung berfokus pada komoditas mayoritas seperti padi, yang mengakibatkan terabaikannya komoditas pangan lainnya.

Subagio menyambut baik gagasan Prabowo untuk menghidupkan kembali potensi pangan lokal di berbagai daerah, termasuk komoditas non-padi seperti singkong dan sagu.

Ia menilai bahwa langkah ini merupakan pergeseran paradigma yang penting, di mana pembangunan pangan tidak lagi bersifat seragam, tetapi lebih spasial dan disesuaikan dengan keunggulan tiap daerah.

Baca Juga: Prabowo Gunakan Mobil Nasional Made in RI 'Maung' Menuju Istana Kepresidenan

Menurut Subagio, pendekatan spasial ini akan memanfaatkan potensi lokal secara maksimal tanpa perlu melakukan modifikasi besar-besaran terhadap sumber daya alam yang ada.

Hal ini tidak hanya memperkuat potensi daerah, tetapi juga mengurangi kebutuhan investasi besar dari pemerintah, seperti pembangunan infrastruktur besar-besaran untuk irigasi atau bendungan.

Urgensi Pengembangan Komoditas Non-Padi

Subagio juga menyoroti bagaimana Indonesia telah tertinggal dalam pengembangan komoditas pangan selain padi, seperti singkong.

Halaman:

Editor: Syamsu Rizal

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sekjen PWI Pusat Zulmansyah Sekedang Wafat

Sabtu, 18 April 2026 | 13:54 WIB
X