Redaksi88.com, Jakarta – Prosesi pelantikan Prabowo Subianto sebagai Presiden RI, Serka (Purn) TNI Asmujiono menundukkan diri dalam sujud syukur.
Momen yang disaksikannya lewat layar televisi itu adalah puncak dari perjalanan panjang seorang mantan prajurit Kopassus yang tak pernah melupakan sosok atasannya.
Asmujiono, yang pernah diragukan masuk satuan elite Kopassus karena tinggi badannya kurang, kini mengenang kembali masa-masa penuh tantangan di bawah komando Prabowo Subianto.
Asmujiono, yang saat itu berada di kediamannya pada Senin (21/10), mengungkapkan kebanggaannya atas mantan komandannya itu. “Saya tahu bagaimana perjuangan dan jiwa nasionalisme Pak Prabowo sejak beliau muda,” ujarnya dengan mata berbinar, seperti dikutip dari wawancara eksklusif Kompas. Ungkapan ini bukan sekadar pujian kosong—Asmujiono adalah salah satu saksi hidup perjuangan Prabowo sejak masa dinas militer.
Baca Juga: Sejarah Sritex: Dari Pasar Tradisional ke Pentas Global dan Diambang Kepailitan
Perjuangan Awal: Diterima Meski Tak Memenuhi Syarat
Pada masa awal bergabung dengan Kopassus, Asmujiono sempat menghadapi tembok besar karena tinggi badannya yang hanya 165 cm.
Ketika itu, standar minimal untuk masuk pasukan khusus adalah 170 cm, yang membuatnya hampir ditolak meski ia lulus tes fisik dengan hasil yang memuaskan.
Keputusan akhir berada di tangan Prabowo, yang kala itu menjabat sebagai Komandan Pusat Pendidikan dan Latihan Pasukan Khusus (Danpusdiklatpassus).
Baca Juga: Penasihat Prabowo Menjembatani Urusan Strategis di Berbagai Sektor, Siapa Sajakah Mereka?
Namun, nasib Asmujiono berubah setelah Kolonel Suhartono Suratman, salah satu tokoh senior di militer, berulang kali menghadap Prabowo untuk memperjuangkan penerimaan Asmujiono. “Setelah lima kali menghadap, Pak Prabowo akhirnya melunak dan menerima saya masuk di Kopassus,” kenang Asmujiono.
Penerimaan itu menjadi titik balik besar dalam hidupnya. Asmujiono berjuang sekuat tenaga, terlibat dalam berbagai operasi militer di Timor Timur dan Aceh.
Setiap tugas diembannya dengan sepenuh hati, meskipun setelah operasi, ia tidak selalu menikmati hak cuti seperti rekan-rekan lain. “Saya ditunjuk Alm Bapak Doni Monardo sebagai Komandan Batalyon untuk ikut kursus Sandi Jejak,” ceritanya dengan nada penuh rasa bangga.
Berkat Insentif Pribadi dari Prabowo: Anak-Anak Asmujiono Tumbuh Sukses