“Pemkab mengelola potensi kesenian dengan baik, salah satunya melalui menjadikannya sebagai pariwisata dalam bentuk Banyuwangi Festival.
Bayangkan, dari SDM yang terlibat dalam sekian ratus Banyuwangi Festival, sekitar 80 persennya seniman.
Terlebih, di Banyuwangi juga terdapat 1.185 sanggar seni yang teregistrasi dan hampir semua hidup,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Ipuk menyebut bahwa memang ada upaya untuk menjadikan seni sebagai industri.
Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, seni dijadikan produk industri dengan tujuan agar seniman dapat hidup melalui kesenian.
Upaya industrialisasi seni tersebut juga direspon positif oleh Dwi Marhen Yono selaku Direktur Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata RI.
Menurut dia, setidaknya ada lima hal yang dicari sekitar 13 juta orang wisatawan berkunjung ke Indonesia. Mulai kuliner, seni dan budaya, event, promo, dan alam yang indah.
“Banyuwangi punya semua itu. Jadi sangat berpotensi menjadi jujugan para wisatawan. Apalagi setelah bertemu travel internasional beberapa waktu lalu, ternyata sebanyak 0,1 persen penduduk dunia mencari wisata berbasis long term. Banyuwangi sangat mungkin menjadi jujugan mereka. Sehingga ini juga bisa menghidupkan seni dan menghidupi seniman,” ujarnya.
Dengan besarnya potensi seni dapat hidup di Banyuwangi dan menghidupi seniman, maka cara pengembangannya pun mesti ditambah.
Samsudin Adlawi menyebut, selama ini pembelajaran seni di Banyuwangi masih menggunakan naluri dan metode tradisional.
Padahal, dia membandingkan, beberapa seniman Banyuwangi yang usai menempuh studi di institut kesenian dapat memberikan dampak signifikan terhadap perkembangan seni di Banyuwangi.
”Oleh karena itu diperlukan adanya institusi pendidikan yang khusus mengkaji perihal kesenian,’’ kata pejabat kelahiran Banyuwangi itu.
Bupati Ipuk juga setuju mengenai hal itu. Menurutnya, meskipun secara alamiah masyarakat Banyuwangi telah memiliki bakat di bidang seni, tetap perlu ada pengembangan melalui institusi pendidikan.
“Selama ini sudah ada kampus seni yang datang. Namun tentu masih memerlukan pembahasan lebih lanjut,” ungkap Ipuk.
Sementara itu sebagai pihak yang juga berperan menjadi penggerak kesenian, terutama seni lukis, Imam Maskun menyebut bahwa Banyuwangi memiliki pelukis yang melimpah.