Peringati Hari Jadi Seni Rupa, Seniman Banyuwangi Gelar Jagong Budaya, Wayangan Dalangnya Presiden Jancukers

Ibrahim Shiddiq, Redaksi88
- Senin, 16 Desember 2024 | 16:19 WIB
Peringati Hari Jadi Seni Rupa, Seniman Banyuwangi Gelar Jagong Budaya, Wayangan Dalangnya Presiden Jancukers.  (Foto/Istimewa)
Peringati Hari Jadi Seni Rupa, Seniman Banyuwangi Gelar Jagong Budaya, Wayangan Dalangnya Presiden Jancukers. (Foto/Istimewa)

“Ini perlu kita dorong bersama-sama. Agar DNA kesenian yang ada di Banyuwangi bisa tumbuh menjadi embrio yang baik,” tandasnya.

Baca Juga: Pahami Kriteria Pasien Gawat Darurat Medis Berdasarkan PERMENKES RI No. 47 Tahun 2018

Hal senada juga disampaikan Samsudin Adlawi. Menurutnya, masyarakat Banyuwangi sejak di dalam kandungan sudah dikenalkan dengan kesenian melalui lagu-lagu daerah yang dilantunkan ibunya. 

Selain itu, secara geografis, kesenian dapat mudah tumbuh dengan kondisi alam Banyuwangi yang menjadi inspirasi para seniman dalam berkarya.

“Kita itu dijaga oleh alam yang luar biasa. Jadi misalnya setelah melihat Ijen, lahir puisi, tarian, lukisan, dan karya seni lain yang mengekspresikan keindahan Ijen. Begitupun laut di sebelah timur dan hutan di sebelah selatan dan barat. Jadi memang kehidupan Banyuwangi adalah kehidupan seni,” ujar Ketua Majelis Kehormatan Dewan Kesenian Blambangan Samsudin Adlawi, pun demikian dengan Sujiwo Tejo. 

Dia bahkan melantunkan lagu Umbul-Umbul Blambangan yang menggambarkan keindahan dan kekayaan alam Banyuwangi. Tejo pun berkelakar bisa jadi seluruh kesenian berasal dari Banyuwangi. 

“Kalau mau jadi seniman yang lebih seniman, lahirlah di Banyuwangi,” kelakar budayawan yang menasbihkan dirinya sebagai Presiden Jancukers tersebut.

Untuk menjadikan kesenian lebih berkembang, diperlukan berbagai upaya. Di bidang pendidikan, kata Bupati Ipuk, anak-anak di sekolah difasilitasi dengan berbagai ekstrakurikuler kesenian.

Untuk menambah gairah para siswa, setiap bulan difasilitasi dengan Festival Padhang Ulanan. Acara tersebut menampilkan beragam pertunjukan seni siswa di pusat keramaian setiap kecamatan di Banyuwangi.

Ditambahkan oleh Samsudin, sebagai penggerak kesenian, dia sepakat bahwa sektor pendidikan Banyuwangi sangat ramah untuk menyuburkan DNA seni pada siswa. 

Terbukti, kata Samsudin, selalu ada perwakilan sekolah dari Banyuwangi yang menjadi pemenang perlombaan kesenian tingkat nasional.

Adanya pengembangan seni, kata Samsudin, juga sekaligus sebagai cara untuk menghidupi para pelaku seni dengan menjadi instruktur dalam ekstrakulikuler di daerah. 

Hal tersebut merupakan salah satu wujud bagaimana seni dapat hidup sekaligus menghidupi Banyuwangi.

Samsudin mengapresiasi upaya Pemkab Banyuwangi dalam memajukan seni dan budaya. Misalnya, dalam gelaran Gandrung Sewu yang nilai perputaran uangnya mencapai Rp 7,5 miliar. 

Selain itu, gelaran Banyuwangi Festival juga dinilai dapat memberikan para seniman ladang penghidupan tambahan.

Halaman:

Editor: Ibrahim Shiddiq

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sekjen PWI Pusat Zulmansyah Sekedang Wafat

Sabtu, 18 April 2026 | 13:54 WIB
X