REDAKSI88.com, JAKARTA - Pernyataan tegas Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya di Harlah Nahdlatul Ulama (NU) ke-102 di Istora Senayan, Jakarta, 5 Februari 2025, memunculkan spekulasi reshuffle Kabinet Merah Putih.
Dalam pidatonya, Prabowo menyatakan komitmennya untuk membersihkan pemerintahan dari korupsi dan penyelewengan.
"Saya ajak semua rekan-rekan saya dalam pemerintahan, dalam Kabinet Merah Putih, kita harus berani mengoreksi diri," ujar Prabowo.
Ia menegaskan bahwa semua pejabat harus memahami tujuan utama pemerintahan, yaitu bekerja untuk rakyat Indonesia.
Baca Juga: Presiden Prabowo Ultimatum Jajaran Kabinet Merah Putih: Siapa yang Tidak Patuh, Saya Akan Tindak
Ultimatum 100 Hari: Siapa yang Tidak Patuh Akan Ditindak
Prabowo menegaskan bahwa 100 hari pertama pemerintahannya merupakan masa evaluasi bagi jajarannya.
"100 hari pertama, ya, saya sudah beri peringatan berkali-kali," kata Prabowo.
Ia juga menyatakan bahwa kesadaran untuk berubah masih diharapkan, tetapi jika tetap ada yang membangkang, maka tindakan tegas akan diambil.
"Siapa yang bandel, siapa yang dablek, siapa yang tidak mau ikut dengan tuntutan rakyat untuk pemerintahan yang bersih, siapa yang tidak patuh, saya akan tindak," tegasnya.
Selain itu, Prabowo juga mengingatkan bahwa seluruh aparat dan institusi harus membersihkan diri sebelum dipaksa untuk dibersihkan.
"Saya pernah menyampaikan, seluruh aparat, seluruh institusi, bersihkan dirimu sebelum kau dibersihkan," tambahnya.
Jawaban Prabowo Soal Isu Reshuffle Kabinet
Usai acara Harlah NU, Presiden Prabowo sempat menjawab pertanyaan awak media terkait makna kata “dibersihkan”, yang dianggap sebagai isyarat reshuffle kabinet.
Dengan nada santai, Prabowo menjawab, "Bahasa Indonesia kan jelas, kan?"