Redaksi88.com- Kelurahan Pasar Lais yang terletak di Kecamatan Lais, Bengkulu Utara, memiliki sejarah penting terkait pembentukan Kabupaten Bengkulu Utara.
Dikenal di masa lalu sebagai Kewedanaan Lais, wilayah ini merupakan salah satu pusat administrasi penting yang berkontribusi terhadap perkembangan pemerintahan di kabupaten tersebut.
Pasar Lais telah bertransformasi menjadi kelurahan modern, tetapi tetap menyimpan jejak sejarah yang signifikan dalam pembentukan dan perkembangan Kabupaten Bengkulu Utara.
Kabupaten ini sendiri memiliki luas yang mencakup 19 kecamatan, termasuk Kecamatan Lais, yang terdiri dari berbagai kelurahan dan desa.
Baca Juga: Viral Nasihat Kepala SMKN 1 Dawuan Subang, Eris Garini: Fokus Masa Depan Tanpa Pacaran
Sebagai pusat kewedanaan, Pasar Lais menempati posisi strategis dalam sejarah pemerintahan daerah.
Hingga kini, kawasan ini tetap menjadi pusat kegiatan ekonomi, ditandai dengan keberadaan pasar tradisional yang baru-baru ini diresmikan.
Selama era kolonial, wilayah yang sekarang menjadi Kabupaten Bengkulu Utara, khususnya Lais, memiliki peran penting sebagai bagian dari wilayah administratif yang lebih besar.
Kewedanaan Lais berfungsi sebagai pusat administrasi kolonial pada masa Hindia Belanda, yang bertujuan untuk mengawasi dan mengendalikan wilayah sekitarnya.
Bengkulu, termasuk Lais, dikenal sebagai daerah strategis bagi pemerintah kolonial karena potensi ekonominya, terutama dalam hal perkebunan dan hasil bumi.
Baca Juga: Polemik Pengawasan Kadun Desa Kota Agung, Kecamatan dan Desa Saling Lempar
Meski tidak sepopuler daerah perkebunan besar lainnya di Sumatra, Lais tetap memberikan kontribusi dalam penyediaan hasil bumi, termasuk kopi dan rempah-rempah.
Infrastruktur yang dibangun oleh pemerintah kolonial, seperti jalur komunikasi dan transportasi, juga berperan penting dalam mengintegrasikan Lais ke dalam jaringan perdagangan yang lebih luas di Sumatra.
Setelah Indonesia meraih kemerdekaan, struktur pemerintahan kolonial di Lais mengalami perubahan menjadi pusat administratif yang lebih sesuai dengan sistem pemerintahan Indonesia, meskipun banyak warisan kolonial masih dapat dilihat hingga saat ini.
Artikel Terkait
Krisis Kepemimpinan di Pemkab Lebong, Dualisme Sekda Timbulkan Dampak Besar pada Roda Pemerintahan
Prabowo-Gibran Siap Dilantik, PMJ Terjunkan 6.757 Personel Gabungan Dikerahkan untuk Pengamanan Maksimal
Ombak Besar Telan Wisatawan India di Pantai Billabong, Pencarian Terus Berlanjut
Menteri ESDM RI Bahlil Lahadalia Raih Gelar Doktor UI: Reformulasi Kebijakan Hilirisasi Nikel di Indonesia
Polemik Pengawasan Kadun Desa Kota Agung, Kecamatan dan Desa Saling Lempar
Viral Nasihat Kepala SMKN 1 Dawuan Subang, Eris Garini: Fokus Masa Depan Tanpa Pacaran