REDAKSI88.com, Jakarta – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi meluncurkan Rumah Pendidikan, sebuah platform digital inovatif yang dirancang untuk menjadi pusat kolaborasi dan integrasi layanan pendidikan.
Diluncurkan dalam versi beta pada 21 Januari 2025, platform ini digagas untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045 melalui penguatan sumber daya manusia berbasis teknologi pendidikan.
Rumah Pendidikan adalah bagian dari upaya pemerintah untuk mewujudkan dua misi utama Asta Cita, penguatan SDM melalui teknologi dan pendidikan dan reformasi birokrasi yang transparan dan efisien.
Platform ini bertujuan meningkatkan literasi digital, efektivitas pembelajaran berbasis teknologi, serta efisiensi pengelolaan administrasi pendidikan.
Baca Juga: Hwang Dong Hyuk Pastikan Squid Game 3 Tayang Lebih Cepat dari Jadwal
"Kami ingin Rumah Pendidikan menjadi tonggak inovasi pendidikan yang mendukung visi besar Indonesia," ujar Sekjen Kemendikdasmen, Suharti, dalam peresmian di Tangerang Selatan. Selasa 21 Januari 2025.
Sementara itu, Hetifah Sjaifudian, Ketua Komisi X DPR RI, mengapresiasi inisiatif ini sebagai langkah modernisasi yang inklusif. "Kolaborasi adalah kunci untuk memastikan keberlanjutan Rumah Pendidikan," ujarnya.
Selain itu, Peningkatan Berkelanjutan Kepala Pusdatin, Yudhistira Nugraha, menyatakan bahwa Rumah Pendidikan akan terus diperbarui setiap tahun.
“Kami akan fokus pada peningkatan kualitas layanan digital, infrastruktur, dan kolaborasi antar direktorat di Kemendikdasmen agar seluruh fitur di portal ini bermanfaat secara berkelanjutan,” jelas Yudhistira.
Baca Juga: Waspada Level II, Pendaki Viral di Gunung Marapi Sumbar hingga Jalur Wisata Ditutup Permanen
Nilai dan Manfaatnya Portal Rumah Pendidikan
Rumah Pendidikan mengadopsi nilai-nilai RAMAH (Responsif, Akuntabel, Melayani, Adaptif, dan Harmonis), yang menjadi fondasi pengembangan fitur-fiturnya.
Pertama pengintegrasikan lebih dari 950 aplikasi pendidikan menjadi delapan layanan utama, kedua siswa, guru, dan dinas pendidikan kini dapat mengakses semua layanan dalam satu platform.
Ketiga, guru dan operator sekolah tidak lagi harus menggunakan banyak aplikasi berbeda, sehingga fokus dapat diarahkan ke pembelajaran.
Keempat, fitur akses offline membantu daerah tertinggal, terluar, dan terdalam memanfaatkan layanan ini, dan konsolidasi teknologi memungkinkan penghematan biaya hingga 60%.
Artikel Terkait
Delegasi Indonesia Tampil dengan Kuch Kuch Hota Hai, Tinggalkan Kesan Mendalam di India
Pesan Haru Shin Tae yong di Detik-detik Kepulangannya ke Korea Selatan, Saya Ingin Istirahat Dulu
Waspada Level II, Pendaki Viral di Gunung Marapi Sumbar hingga Jalur Wisata Ditutup Permanen
Kasus Bule Jerman Bos Parq Ubud di Bali, Kuasai 34 SHM hingga Dihuni Warga Rusia
Kevin Diks Tarik Perhatian Fans Garuda Setelah Pindah dari Denmark ke Jerman
Hwang Dong Hyuk Pastikan Squid Game 3 Tayang Lebih Cepat dari Jadwal