Lawan Politik Uang! Bangkit Membangun Demokrasi yang Bermartabat

Syamsu Rizal, Redaksi88
- Jumat, 22 November 2024 | 19:04 WIB
Lawan Politik Uang! Bangkit Membangun Demokrasi yang Bermartabat (Foto/Ilustrasi/wayhomestudio)
Lawan Politik Uang! Bangkit Membangun Demokrasi yang Bermartabat (Foto/Ilustrasi/wayhomestudio)

Oleh: Redaksi88.com

Pemilu adalah nafas dari sebuah demokrasi yang menjadi panggung bagi rakyat untuk berbicara, menentukan arah, dan memilih masa depan yang lebih baik. 

Namun, apa jadinya jika suara-suara itu dirusak oleh godaan sesaat, oleh lembaran rupiah yang menggoda kesadaran? Inilah merupakan ancaman laten demokrasi kita. 

Money politik atau biasa disebut politik uang merupakan praktik culas yang dapat menyelubungi pemilu dengan bayang-bayang kepentingan diruang yang sempit. Bahkan dapat menggerogoti kemurnian demokrasi.

Baca Juga: AI sebagai Sahabat Belajar: Menyongsong Era Mahasiswa 5.0

Dalam keheningan malam menjelang hari pemilihan, tak jarang amplop-amplop beterbangan itu bukan sekadar pemberian, melainkan sebuah jeratan bagi yang memahaminya. 

Dalam amplop itu terkandung pesan kelam, "Jual suara Anda, lupakan idealisme, biarkan kami yang berkuasa!" Praktik ini bukan sekadar menyogok, melainkan mengkhianati masa depan.

Namun, harapan tidak pernah padam. Di tengah ancaman itu, ada suara-suara yang bangkit, menyerukan perlawanan.

"Kita harus menolak politik uang! Demokrasi adalah hak kita, bukan untuk dijual!" Pemilu bukan hanya soal memilih pemimpin, tetapi menjaga harga diri sebagai warga negara.

Baca Juga: Sepuluh Tahun Kepemimpinan Mian-Arie di Bengkulu Utara: Menakar Prestasi dan Menyisir Kontroversi

Membangun Narasi Lawan Politik Uang

Perlawanan terhadap politik uang harus dimulai dari narasi, dan dari cerita yang dapat menggugah kesadaran setiap individu masyarakat.

Pemilihan Berdasarkan Program dan Visi adalah jalan utama. 

Rakyat harus diajak untuk melihat lebih dalam, mendengar dengan cermat, dan menilai berdasarkan gagasan, bukan rupiah. Pilihlah pemimpin yang membawa harapan, bukan janji kosong yang dibungkus amplop.

Integritas dan kompetensi menjadi kunci utama. Seorang pemimpin yang jujur adalah penjaga amanah rakyat. Rekam jejaknya harus jelas, langkahnya harus transparan.

"Pemimpin yang lahir dari politik uang, akan membayar kemenangan itu dengan korupsi."

Halaman:

Editor: Syamsu Rizal

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Arah Baru Fundruiser Indonesia

Jumat, 30 Januari 2026 | 06:30 WIB

Ketika Tumbler Menjadi Status Symbol Lingkungan

Sabtu, 13 Desember 2025 | 15:04 WIB

Ketika Ambisi Politik Mengalahkan Rasionalitas Ekonomi

Minggu, 19 Oktober 2025 | 13:57 WIB

Cium Tangan Budaya Feodal

Selasa, 24 Desember 2024 | 14:14 WIB

Wartawan Gaek

Senin, 23 Desember 2024 | 11:58 WIB

Primordialisme

Minggu, 22 Desember 2024 | 12:29 WIB

Batu Bulek Idak Besending

Minggu, 22 Desember 2024 | 12:11 WIB

Dampak Polusi Udara Terhadap Kesehatan

Rabu, 11 Desember 2024 | 23:59 WIB
X