opini

Belajar dari Maori, Anak Muda yang Bangga akan Pelestarian Budaya

Rabu, 11 Desember 2024 | 00:30 WIB
Opini: Maulina Hasabna Sitakar - Belajar dari Maori, Anak Muda yang Bangga akan Pelestarian Budaya. (Foto/Maulina Hasabna Sitakar)

 

REDAKSI88.com- Suku Maori adalah penduduk asli dari Selandia Baru yang tetap mempertahankan budaya mereka di tengah modernisasi. 

Sejak kecil, anak-anak suku Māori diajarkan tarian tradisional, yang memiliki arti penuh makna dan simbol kebanggaan. 

Bahasa Māori juga diakui sebagai bahasa resmi di Selandia Baru dan banyak sekolah yang mewajibkan pengajaran bahasa ini.

Mereka memiliki festival tahunan yang melibatkan tarian, nyanyian dan cerita rakyat yang didukung oleh pemerintah Selandia Baru. 

Bahkan anak muda disana begitu bangga memperlihatkan kepada dunia tentang tradisi mereka melalui media sosial.

Bagi masyarakat Maori, budaya adalah bagian dari identitas yang tidak terpisahkan. Baru baru ini viral karena tarian mereka yaitu tarian Haka sebagai bentuk protes pada saat sidang parlemen Selandia Baru dan juga munculnya film Disney yang berjudul Moana 2. 

Setelah viralnya hal itu, banyak orang yang tertarik untuk melakukan tarian Haka, karena hal ini banyak masyarakat Māori yang membuat tutorial tarian Haka melalui media sosial seperti TikTok. 

Dengan cara ini, suku Māori tidak hanya melestarikan tradisi mereka tetapi juga mempromosikannya secara global. 

Hal yang membuat takjub adalah dimana mereka mengajarkan tarian ke anak-anak mereka sedini mungkin walaupun bagi kita terkadang terlihat seperti belum diperlukan untuk dipelajari.

Situasi di Indonesia: Kurangnya Minat Anak Muda Terhadap Budaya Lokal

Sementara suku Māori dapat mempertahankan dan bahkan membanggakan budaya mereka, situasi di Indonesia justru sebaliknya. 

Banyak anak muda Indonesia yang mulai kehilangan rasa bangga terhadap budaya dari masing-masing suku mereka. Bahkan kebanyakan anak muda lebih mengenal dan mengikuti budaya negara luar.

Bahasa daerah yang semakin jarang digunakan oleh generasi muda saat ini. 

Beberapa bahasa daerah bahkan terancam punah dan kritis, seperti menurut Mendikbudristek dimana penyebab utamanya adalah karena penutur jatinya tidak lagi menggunakan dan mewariskan bahasanya kepada generasi berikutnya. 

Hal ini juga terjadi karena kurangnya edukasi budaya di sekolah, walaupun ada mata pelajaran tentang budaya lokal hanya menjadi teori tanpa pengalaman langsung yang menarik. 

Halaman:

Tags

Terkini

Arah Baru Fundruiser Indonesia

Jumat, 30 Januari 2026 | 06:30 WIB

Ketika Tumbler Menjadi Status Symbol Lingkungan

Sabtu, 13 Desember 2025 | 15:04 WIB

Ketika Ambisi Politik Mengalahkan Rasionalitas Ekonomi

Minggu, 19 Oktober 2025 | 13:57 WIB

Cium Tangan Budaya Feodal

Selasa, 24 Desember 2024 | 14:14 WIB

Wartawan Gaek

Senin, 23 Desember 2024 | 11:58 WIB

Primordialisme

Minggu, 22 Desember 2024 | 12:29 WIB

Batu Bulek Idak Besending

Minggu, 22 Desember 2024 | 12:11 WIB

Dampak Polusi Udara Terhadap Kesehatan

Rabu, 11 Desember 2024 | 23:59 WIB