Di sisi lain stigma bahwa budaya lokal itu “kuno” membuat anak muda malas untuk terlibat dalam melestarikan budaya.
Kurangnya program pelestarian budaya yang relevan dengan gaya hidup anak muda sekarang, juga membuat kesadaran mereka menurun akan pentingnya dalam memelihara suku dan budaya yang ada.
Hal ini juga terjadi pada seni tradisional seperti tari, musik, dan kerajinan tangan yang semakin jarang diperkenalkan dikalangan anak muda.
Salah satu penyebabnya adalah kurangnya pendidikan dan program yang memperkenalkan budaya lokal dengan cara yang menarik.
Sebagian besar anak muda lebih tertarik pada tren global dan budaya pop yang lebih mudah diakses melalui media sosial dan platform digital lainnya.
Apa saja sih tarian tradisional yang mulai sedikit penarinya yang perlu dilestarikan? Contonya seperti tari Piring, tari Saman, tari Kecak dll.
Tantangan dari tarian tersebut adalah kekompakkan, keberanian, kelincahan, dan masih banyak lagi. Walaupun tarian ini cukup susah untuk dilakukan tapi justru di situlah keindahannya yang menjadi pengakuan dunia.
Batik, Wayang Kulit, Tenun Ulos dan kerajinan tangan lainnya merupakan kerajinan tradisional yang mulai sedikit pengrajin atau penerusnya.
Seperti yang kita tau bahwa kerajinan tangan ini memiliki nilai jual yang tinggi untuk dikenalkan kepada dunia, karena memiliki keunikan dan ciri khasnya tersendiri.
Apa saja yang bisa kita pelajari dari Suku Māori?
Melihat bagaimana suku Māori berhasil mempromosikan dan menjaga budaya mereka, berikut adalah cara yang dapat kita terapkan di Indonesia:
- Festival dan Acara yang melibatkan anak muda
Membuat pameran seni tradisional, lomba desain batik modern, pertunjukkan wayang kulit dengan cerita yang sesuai keadaan anak muda sekarang, dan juga pertunjukkan tari dan musik tradisional yang dikolaborasikan dengan genre modern yang bisa menarik perhatian generasi muda saat ini.
Melibatkan anak muda dalam kegiatan ini akan membuat mereka merasa memiliki kontribusi dalam pelestarian budaya tersebut. Hal ini bisa menjadi cara yang efektif dan positif untuk memperkenalkan mereka pada tradisi budaya lokal.
- Mempelajari dan mengenal budaya menjadi bagian dalam kurikulum pendidikan
Di Selandia Baru, pelajaran tentang bahasa dan budaya Māori tidak hanya diajarkan sebatas teori di sekolah-sekolah tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari yang menjadi bagian dari kurikulum.
Memasukkan pelajaran seni dan budaya daerah ke dalam kurikulum sekolah bisa menjadi langkah yang baik. Pendidikan budaya sedini mungkin yang menjadikan kunci untuk melestarikan budaya kita.
Bisa dimulai dengan belajar bahasa, kerajinan tangan, musik dan tarian tradisional dengan cara yang menyenangkan, agar memberikan kesan positif yang membuat kita terus ingin menggali dan mempelajari budaya tradisional.
Artikel Terkait
Kontroversi Hukum Internasional: ICC Keluarkan Surat Perintah Penangkapan Perdana Menteri Israel
Jebakan Manis Pinjol Ilegal
Membangun Aliansi Strategis Masa Depan Hubungan Iran-Suriah
Implikasi Kenaikan PPN 12 Persen terhadap Stabilitas dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Hafizah Mahasiswi S1 Akuntansi FEB
Memanfaatkan Teknologi untuk Hidup Sehat
Dari Hiburan Menjadi Kecanduan, Menyikapi Gadget di Era Digital