Belajar dari Maori, Anak Muda yang Bangga akan Pelestarian Budaya

Syamsu Rizal, Redaksi88
- Rabu, 11 Desember 2024 | 00:30 WIB
Opini: Maulina Hasabna Sitakar - Belajar dari Maori, Anak Muda yang Bangga akan Pelestarian Budaya.  (Foto/Maulina Hasabna Sitakar)
Opini: Maulina Hasabna Sitakar - Belajar dari Maori, Anak Muda yang Bangga akan Pelestarian Budaya. (Foto/Maulina Hasabna Sitakar)

Di sisi lain stigma bahwa budaya lokal itu “kuno” membuat anak muda malas untuk terlibat dalam melestarikan budaya.

Kurangnya program pelestarian budaya yang relevan dengan gaya hidup anak muda sekarang, juga membuat kesadaran mereka menurun akan pentingnya dalam memelihara suku dan budaya yang ada. 

Hal ini juga terjadi pada seni tradisional seperti tari, musik, dan kerajinan tangan yang semakin jarang diperkenalkan dikalangan anak muda. 

Salah satu penyebabnya adalah kurangnya pendidikan dan program yang memperkenalkan budaya lokal dengan cara yang menarik. 

Sebagian besar anak muda lebih tertarik pada tren global dan budaya pop yang lebih mudah diakses melalui media sosial dan platform digital lainnya. 

Apa saja sih tarian tradisional yang mulai sedikit penarinya yang perlu dilestarikan? Contonya seperti tari Piring, tari Saman, tari Kecak dll. 

Tantangan dari tarian tersebut adalah kekompakkan, keberanian, kelincahan, dan masih banyak lagi. Walaupun tarian ini cukup susah untuk dilakukan tapi justru di situlah keindahannya yang menjadi pengakuan dunia. 

Batik, Wayang Kulit, Tenun Ulos dan kerajinan tangan lainnya merupakan kerajinan tradisional yang mulai sedikit pengrajin atau penerusnya. 

Seperti yang kita tau bahwa kerajinan tangan ini memiliki nilai jual yang tinggi untuk dikenalkan kepada dunia, karena memiliki keunikan dan ciri khasnya tersendiri.

Apa saja yang bisa kita pelajari dari Suku Māori?

Melihat bagaimana suku Māori berhasil mempromosikan dan menjaga budaya mereka, berikut adalah cara yang dapat kita terapkan di Indonesia:

  •  Festival dan Acara yang melibatkan anak muda

Membuat pameran seni tradisional, lomba desain batik modern, pertunjukkan wayang kulit dengan cerita yang sesuai keadaan anak muda sekarang, dan juga pertunjukkan tari dan musik tradisional yang dikolaborasikan dengan genre modern yang bisa menarik perhatian generasi muda saat ini.

Melibatkan anak muda dalam kegiatan ini akan membuat mereka merasa memiliki kontribusi dalam pelestarian budaya tersebut. Hal ini bisa menjadi cara yang efektif dan positif untuk memperkenalkan mereka pada tradisi budaya lokal.

  •  Mempelajari dan mengenal budaya menjadi bagian dalam kurikulum pendidikan

Di Selandia Baru, pelajaran tentang bahasa dan budaya Māori tidak hanya diajarkan sebatas teori di sekolah-sekolah tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari yang menjadi bagian dari kurikulum. 

Memasukkan pelajaran seni dan budaya daerah ke dalam kurikulum sekolah bisa menjadi langkah yang baik. Pendidikan budaya sedini mungkin yang menjadikan kunci untuk melestarikan budaya kita.

Bisa dimulai dengan belajar bahasa, kerajinan tangan, musik dan tarian tradisional dengan cara yang menyenangkan, agar memberikan kesan positif yang membuat kita terus ingin menggali dan mempelajari budaya tradisional.

Halaman:

Editor: Syamsu Rizal

Sumber: Maulina Hasabna Sitakar

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Arah Baru Fundruiser Indonesia

Jumat, 30 Januari 2026 | 06:30 WIB

Ketika Tumbler Menjadi Status Symbol Lingkungan

Sabtu, 13 Desember 2025 | 15:04 WIB

Ketika Ambisi Politik Mengalahkan Rasionalitas Ekonomi

Minggu, 19 Oktober 2025 | 13:57 WIB

Cium Tangan Budaya Feodal

Selasa, 24 Desember 2024 | 14:14 WIB

Wartawan Gaek

Senin, 23 Desember 2024 | 11:58 WIB

Primordialisme

Minggu, 22 Desember 2024 | 12:29 WIB

Batu Bulek Idak Besending

Minggu, 22 Desember 2024 | 12:11 WIB

Dampak Polusi Udara Terhadap Kesehatan

Rabu, 11 Desember 2024 | 23:59 WIB
X