Membangun Aliansi Strategis Masa Depan Hubungan Iran-Suriah

Syamsu Rizal, Redaksi88
- Selasa, 10 Desember 2024 | 19:26 WIB
Opini- Agnes Amelia Tampubolon - Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi. (Foto/Agnes Amelia Tampubolon)
Opini- Agnes Amelia Tampubolon - Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi. (Foto/Agnes Amelia Tampubolon)

 

Hubungan antara Iran dan Suriah telah menjadi salah satu aliansi paling menonjol di Kawasan Timur Tengah selama beberapa dekade terakhir.

Kerja sama strategis ini didasarkan pada kepentingan geopolitik, ideologis dan ekonomi yang saling terkait.

Kedua negara telah menjalin hubungan erat yang tidak hanya mempengaruhi stabilitas regional, tetapi juga berdampak pada dinamika global.

Kerja sama antara Iran dan Suriah bermula setelah Revolusi Islam di Iran tahun 1979.

Ketika banyak negara Arab lainnya mendukung Irak dalam perang Iran-Irak (1980–1988), Suriah, di bawah kepemimpinan Hafez al-Assad, memilih untuk mendukung Iran.

Kedua negara berbagi pandangan yang sama terhadap dominasi Barat di Timur Tengah. Baik Iran maupun Suriah menentang intervensi Amerika Serikat dan negara-negara sekutu Barat dalam urusan kawasan.

Suriah memiliki hubungan tegang dengan Irak yang dipimpin oleh rezim Ba'ath yang berlawanan faksi.

Dukungan Suriah terhadap Iran dalam perang Iran-Irak adalah langkah strategis untuk melemahkan posisi Irak di kawasan.

Pijakan Bersama dalam Konflik Palestina-Israel

Iran dan Suriah mendukung perjuangan Palestina melawan Israel. Suriah secara historis terlibat langsung dalam konflik dengan Israel.

Sementara Iran menjadi pendukung utama kelompok-kelompok perlawanan seperti Hamas dan Hizbullah. 

Aliansi ini semakin menguat selama beberapa dekade, terutama setelah naiknya Bashar Al Assad sebagai pemimpin Suriah pada tahun 2000.

Bashar melanjutkan hubungan erat dengan Teheran, memperluas kerja sama di berbagai bidang.

Dimensi Kerja Sama Iran-Suriah Kerja Sama Politik dan Militer

Iran dan Suriah memiliki tujuan bersama dalam mempertahankan stabilitas rezim masing-masing dan menentang tekanan dari Barat, Israel, dan negara-negara Teluk.

Halaman:

Editor: Syamsu Rizal

Sumber: Agnes Amelia Tampubolon

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Arah Baru Fundruiser Indonesia

Jumat, 30 Januari 2026 | 06:30 WIB

Ketika Tumbler Menjadi Status Symbol Lingkungan

Sabtu, 13 Desember 2025 | 15:04 WIB

Ketika Ambisi Politik Mengalahkan Rasionalitas Ekonomi

Minggu, 19 Oktober 2025 | 13:57 WIB

Cium Tangan Budaya Feodal

Selasa, 24 Desember 2024 | 14:14 WIB

Wartawan Gaek

Senin, 23 Desember 2024 | 11:58 WIB

Primordialisme

Minggu, 22 Desember 2024 | 12:29 WIB

Batu Bulek Idak Besending

Minggu, 22 Desember 2024 | 12:11 WIB

Dampak Polusi Udara Terhadap Kesehatan

Rabu, 11 Desember 2024 | 23:59 WIB
X