REDAKSI88.com – Momentum Lebaran 2026 tercatat menjadi periode vital bagi penguatan ekonomi Indonesia. Laporan terbaru dari NEXT Indonesia Center mengungkapkan adanya lonjakan tajam likuiditas yang mencerminkan peningkatan daya beli dan kesiapan konsumsi rumah tangga nasional di tingkat akar rumput.
Kepala Peneliti NEXT Indonesia Center, Ade Holis, memaparkan bahwa berdasarkan data Bank Indonesia, jumlah uang tunai (kartal) yang diedarkan menjelang Lebaran tahun ini mencapai angka fantastis.
"Dari hasil riset yang kami lakukan berdasarkan data Bank Indonesia, jumlah uang kartal atau uang tunai dalam bentuk kertas maupun logam yang diedarkan untuk kebutuhan jelang Lebaran 2026 mencapai Rp 1.370 triliun.
Baca Juga: Banjir Sumatra Tak Ancam Pertumbuhan Ekonomi, Pemerintah Siapkan Cadangan Pembiayaan
Angka tersebut lebih tinggi 10,4 persen atau naik Rp 130 triliun dibandingkan menjelang Lebaran 2025 yang hanya Rp 1.240 triliun," ujar Ade Holis dalam keterangan tertulisnya, Kamis (26/3).
Ade menekankan bahwa fenomena tahun ini adalah rekor tertinggi dalam enam tahun terakhir.
"Lebaran 2026 adalah momentum emas. Kita sedang menyaksikan mesin ekonomi domestik bekerja pada kapasitas optimal," ucapnya.
Selain faktor uang tunai, data Kementerian Perhubungan juga mengonfirmasi gairah ekonomi ini melalui kenaikan volume pemudik. Sektor laut mencatat penambahan terbesar dengan 2,69 juta orang, disusul kereta api (1,83 juta), angkutan bus (1,59 juta), dan pesawat terbang (2,4 juta).
Baca Juga: Wajib Konsolidasi Asuransi: Perusahaan Diburu Regulasi, Pelaku Pasar Pilih Transfer Portofolio
"Peningkatan penumpang di jalur laut ini sangat krusial karena mengindikasikan pemerataan sirkulasi ekonomi antar-pulau," ungkap Ade.
Menutup keterangannya, Ade optimis bahwa perpaduan antara dana siap belanja dan masifnya arus mudik akan memberikan kontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional kuartal pertama.
"Sinkronisasi antara likuiditas dan mobilitas ini adalah kunci pertumbuhan ekonomi nasional. Masyarakat memiliki daya beli dan mereka memiliki akses mobilitas untuk membelanjakannya di kampung halaman, yang secara otomatis menghidupkan ekosistem ekonomi lokal," pungkasnya.***